D-ONENEWS.COM

PDAM Siapkan Bantuan Hukum Terhadap Tersangka Pemerasan Proyek Pipa

foto : Mujiaman Sukirno

Surabaya,(DOC) – Direktur Utama (Dirut) PDAM Surya Sembada Surabaya, Mujiaman Sukirno, mengaku, jika Rabu(9/1/2019) dirinya diperiksa oleh Penyidik Pidsus Kejagung RI terkait kasus korupsi penyalahgunaan wewenang dalam bentuk pemerasan yang dilakukan Manajer Pemeliharaan Jaringan Distribusi PDAM, Retno Tri Utomo alias Gurit.

“Sudah diperiksa, materinya seputar kebijakan yang ada di PDAM dan kebetulan saat itu saya belum menjabat sebagai Dirut, jadi tidak tau permasalahannya,” ungkap Mujiaman, saat dikonfirmasi, Jumat(11/1/2019).

Meskipun pihaknya tidak memahami tindakan yang dilakukan Gurit, namun Mujiaman tetap memberikan support ke penyidik Pidsus Kejagung.

“Kita akan terbuka, apa yang diminta penyidik tentang data data terkait kasus ini akan kami berikan,” imbuhnya.

Saat menjalani pemeriksaan, Mujiaman sempat memastikan, bahwa staff-nya tersebut telah mendekam di tahanan. Sehingga dirinya berencana untuk memberikan bantuan hukum kepada tersangka.

“Ternyata  benar ditangkap dan ditahan. Untuk itu kami akan mencoba memberikan upaya bantuan hukum terhadap saudara Gurit,” tandasnya.

Menurut Mujiaman, kasus pemerasan yang dilakukan Gurit terhadap Chandra Arianto, Direktur PT Cipta Wisesa Bersama (CWS) merupakan perbuatan pribadi yang tidak bisa disangkut pautkan dengan instansi PDAM.

“Ini perbuatan pribadi dan tidak ada kaitan dengan PDAM,” pungkasnya.

Pada pemberitaan sebelumnya, Gurit ditangkap dirumahnya dikawasan Wiyung Surabaya, Selasa(8/1/2019) malam. Ia ditangkap oleh Penyidik Pidsus Kejagung dengan dibackup Kejati Jatim dan Kejari Surabaya lantaran beberapa kali mangkir dari panggilan pemeriksaan.

Usai ditangkap, Gurit langsung dibawa ke Gedung Bundar dan ditahan keesokan harinya, Rabu(9/1/2019) pagi.

Manajer Pemeliharan Jaringan Distribusi PDAM Surya Sembada Surabaya ini ditetapkan tersangka berdasarkan surat Tap-17/F.2/Fd.2/2019 tanggal 3 januari 2019.

Gurit diduga menyalahgunakan wewenang atau kekuasaan yang ada pada jabatannya atau pemerasan dengan meminta uang sebesar Rp 1 miliar kepada Chandra Arianto selaku Direktur PT Cipta Wisesa Bersama(CWB) yang saat itu ditunjuk sebagai Penyedia Barang/jasa Pembangunan Jaringan Pipa DN-300 dan DN-200 di Jalan Rungkut Madya-Jalan Kenjeran (MEER) Sisi Timur.

Aksi pemerasan ini dilakukan Gurit secara bertahap, yakni sebanyak delapan kali dengan total Rp 900 juta melalui transfer ke rekening bank yang telah ditentukan Gurit.

Dalam kasus ini, Gurit  disangkakan melanggar pasal 12 huruf e Undang-undang No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 421 KUHP.(pro/r7)

Loading...