
Jakarta,(DOC) – Masih dalam rangkaian sosialisasi Surat Edaran Bersama (SEB) tentang Pembelajaran di Bulan Ramadan 1446 H/2025 M, Kemendikdasmen menekankan pentingnya penyesuaian proses belajar mengajar selama bulan suci. Direktur Sekolah Dasar, Moch. Salim Somad, menyampaikan bahwa seluruh elemen dalam ekosistem pendidikan harus berperan aktif menjaga proses pembelajaran tetap berjalan efektif dan efisien.
Senada dengan itu, Widyaprada Direktorat Sekolah Dasar, Abdul Halim Muharam, menambahkan bahwa praktik pembelajaran selama Ramadan perlu memperhitungkan beberapa faktor penting. Faktor tersebut di antaranya adalah durasi belajar, jenis kegiatan, serta integrasi dengan aktivitas keagamaan di sekolah.
“Guru memegang peran kunci. Mereka yang menentukan bentuk perhatian dan penyesuaian pembelajaran yang ideal. Ini agar siswa tetap bisa beribadah dengan tenang sekaligus belajar dengan semangat,” ujar Halim.
Lebih lanjut, Halim menjelaskan isi pokok Surat Edaran Bersama yang telah disusun berdasarkan kalender pemerintah tentang awal Ramadan, Idulfitri, dan jadwal libur nasional.
Berikut rincian pengaturan pembelajaran di bulan Ramadan:
- 27–28 Februari dan 3–5 Maret 2025: Pembelajaran di lakukan secara mandiri di rumah, tempat ibadah, atau lingkungan masyarakat sesuai arahan dari sekolah/madrasah/satuan pendidikan keagamaan.
- 6–25 Maret 2025: Pembelajaran kembali di laksanakan di sekolah atau satuan pendidikan keagamaan dengan penyesuaian aktivitas dan durasi belajar.
- Libur bersama Idulfitri di tetapkan pada tanggal 26–28 Maret dan 2, 3, 4, 7, 8 April 2025. Proses pembelajaran akan aktif kembali pada 9 April 2025.
Jangan Dipandang Sebagai Beban
Di satu sisi, Salim menekankan bahwa kehadiran Ramadan jangan di pandang sebagai beban, melainkan kesempatan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan seimbang antara aspek akademik dan spiritual.
“Ramadan tidak seharusnya menjadi penghalang, tapi justru membawa kebahagiaan dalam proses belajar. Suasana belajar yang kondusif, ringan, dan penuh nilai akan memberi dampak positif bagi peserta didik,” tegas Salim.
Kebijakan ini, lanjutnya, juga mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. Pendidikan yang seimbang secara jasmani, rohani, dan sosial menjadi kunci lahirnya generasi masa depan yang tangguh dan berkarakter.
Untuk mewujudkan hal tersebut, peran pemangku kepentingan sangat krusial. Salim dan Halim sama-sama menekankan pentingnya kolaborasi antara satuan pendidikan, pemerintah daerah, guru, dan orang tua.
“Orang tua harus tetap mendampingi dan memantau anak-anaknya selama belajar di rumah dan menjalankan ibadah. Pendidikan adalah usaha bersama, terlebih di bulan penuh makna ini,” tutup Halim. (r6)





