Surabaya,(DOC) – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bergerak cepat memperkuat komitmen di sektor pendidikan. Melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama deretan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), ia memastikan tidak ada lagi mahasiswa asli Surabaya yang terpaksa putus kuliah karena kendala ekonomi.
Cak Eri menegaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mengupayakan berbagai skema bantuan. Selain mengandalkan anggaran daerah, pihaknya juga menggandeng kampus dan membuka program orang tua asuh sebagai solusi komprehensif.
“Kita harus mencari jalan keluar agar anak-anak ini tetap kuliah. Oleh sebab itu, soal kekurangan biaya akan kita carikan solusi bersama, baik lewat pihak kampus maupun skema bantuan lainnya,” ujar Cak Eri, Kamis (5/2/2026).
Tantang Mahasiswa Menjadi Pemimpin Masa Depan
Di hadapan para penerima beasiswa, Cak Eri memberikan motivasi agar mereka tidak merasa rendah diri meski berasal dari keluarga sederhana. Sebaliknya, ia meminta mahasiswa fokus mengejar prestasi agar mampu bersaing di masa depan.
“Kalian harus membuktikan bahwa kalian adalah generasi emas. Belajarlah dengan tekun. Saya berharap suatu saat nanti, salah satu dari kalianlah yang berdiri di sini memimpin Kota Surabaya,” tandasnya.
Apresiasi Rektor: Langkah Berani Memutus Kemiskinan
Kerja sama strategis ini menuai pujian dari kalangan akademisi. Rektor UNESA, Prof. Nurhasan, menyebut langkah Cak Eri sebagai terobosan yang sangat berani dan luar biasa untuk memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.
Oleh karena itu, UNESA berkomitmen penuh mendukung kebijakan tersebut. “Ini langkah hebat untuk menciptakan SDM unggul. Kami siap menampung berapapun kuota yang ditugaskan oleh Pak Wali melalui program ini,” ungkap pria yang akrab disapa Cak Hasan itu.
Kesetaraan Melalui Perwali Nomor 4 Tahun 2026
Sementara itu, Rektor Universitas Wijaya Putra, Budi Endarto, menjelaskan bahwa payung hukum Perwali Nomor 4 Tahun 2026 memberikan napas baru bagi mahasiswa di PTS. Kini, tidak ada lagi perbedaan perlakuan antara mahasiswa PTN dan PTS dalam menerima bantuan biaya pendidikan.
“Dulu bantuan cenderung fokus ke PTN saja. Namun sekarang, mahasiswa PTS ber-KTP Surabaya mendapatkan hak yang setara. Ini adalah investasi sosial jangka panjang yang sangat layak menjadi percontohan nasional,” jelas Budi.
Momen Haru Penjual Penyetan
Kisah inspiratif datang dari Anisah Wahyu Triska, mahasiswi semester 5 yang hampir menyerah karena keterbatasan biaya. Sehari-hari, ia harus membantu ibunya berjualan penyetan demi menyambung hidup.
Beruntungnya, melalui MoU dan kebijakan baru ini, mimpi Anisah untuk meraih gelar sarjana kini kembali terbuka lebar. “Saya sangat bersyukur atas kepedulian Pak Eri Cahyadi dan Pemkot Surabaya. Semoga program ini terus berlanjut membantu mahasiswa lain yang membutuhkan,” pungkas Anisah. (r7)





