Eri-Armuji di Mata Arif Fathoni: Visi Jenius yang Terhambat Birokrasi Lambat

Eri-Armuji di Mata Arif Fathoni: Visi Jenius yang Terhambat Birokrasi LambatSurabaya,(DOC) – Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni, menyampaikan sejumlah catatan krusial dalam Forum Group Discussion (FGD) di Hotel Aria Surabaya, Kamis (5/2/2026). Saat mengevaluasi satu tahun kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi dan Wakil Wali Kota Armuji, Fathoni mengapresiasi visi teknokratik wali kota, namun ia melontarkan kritik tajam terhadap kinerja birokrasi di level bawah.

​Visi Jenius vs Hambatan Eksekusi

​Fathoni memandang Eri Cahyadi sebagai pemimpin dengan gaya teknokratik yang sangat detail dalam perencanaan. Ia menyebut alur pemikiran Eri mengenai masa depan Surabaya dalam RPJMD merupakan sebuah “geniusitas berpikir”.

Bacaan Lainnya

​Meski begitu, ia menyayangkan hambatan yang masih terjadi pada level pelaksana.

​”Saya melihat beberapa birokrat di lingkungan Pemkot Surabaya belum memahami kehendak Wali Kota dengan baik. Gerakan mereka lambat, terutama saat berurusan dengan lintas OPD (Organisasi Perangkat Daerah),” tegas Fathoni.

​Ia mengingatkan bahwa pada era pasca-reformasi, birokrasi harus melayani rakyat sebagai tuan, bukan lagi menuntut pelayanan seperti pola lama.

​Harmoni Politik dan Mitigasi Konflik

​Mengenai gaya komunikasinya yang kini lebih lunak daripada tahun 2019, politisi Golkar ini menjelaskan bahwa ia memegang prinsip untuk menjaga marwah kawan di depan publik. Namun, ia tetap melayangkan otokritik secara langsung melalui kanal komunikasi internal.

​Fathoni juga menyoroti dinamika media sosial yang sempat memanas. Ia mengakui langkahnya yang sempat “mengambinghitamkan” Kepala Bakesbangpol demi menjaga stabilitas kota. Ia menilai Bakesbangpol saat itu pasif dalam memitigasi potensi konflik komunal berbasis kesukuan.

​Langkah tegas tersebut membuahkan hasil. Setelah Komisi A melakukan interupsi, koordinasi antar-instansi menjadi lebih cepat (gercep) dan berhasil mereduksi tensi konflik di media sosial.

​Tiga Kunci Politik Era Digital

​Mengutip pakar pemasaran Hermawan Kertajaya, Fathoni membagikan tiga strategi utama bagi politisi agar tetap eksis di era informasi:

  • ​Netizen: Membangun dialog aktif dan melayani kritik di media sosial.
  • ​Women (Ibu-ibu): Merangkul pemilih perempuan karena loyalitas dan konsistensi mereka.
  • ​Youth (Anak Muda): Melibatkan anak muda untuk menjamin keberlanjutan masa depan politik.
Baca Juga:  Satpol PP Surabaya Awasi 8 RHU Saat Ramadan, Seluruhnya Patuh Aturan

​Surabaya sebagai Pintu Gerbang IKN 2028

​Menutup pernyataannya, Fathoni merasa optimis Surabaya tetap berada di jalur yang benar sebagai laboratorium kebhinekaan.

Menurutnya, stabilitas ini sangat krusial mengingat posisi strategis Surabaya sebagai kota penyangga sekaligus pintu gerbang Ibu Kota Nusantara (IKN) pada 2028 mendatang. (r7)

Pos terkait