Surabaya, (DOC) – Perpustakaan Herbal Nginden Jangkungan, Kota Surabaya, berhasil lolos menjadi 6 nominator terbaik Lomba Perpustakaan Umum Terbaik Desa/Kelurahan Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2021. Perpustakaan ini menjadi salah satu perwakilan dari Kota Surabaya yang masuk ke tingkat Jatim.
Perpustakaan yang terletak di sebelah Kantor Kelurahan Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo ini, kemudian berhak mengikuti tahap penilaian visitasi di lapangan. Proses penilaian inipun dilakukan oleh dewan juri dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jatim, Kamis (20/5/2021).
Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, beserta Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya, Musdiq Ali Suhudi, turut hadir dalam proses penilaian tersebut. “Saat ini, Perpustakaan Herbal Nginden Jangkungan mewakili Surabaya pada tingkat Provinsi Jatim. Mudah-mudahan dapat menjadi Juara 1,” kata Wawali Armuji di sela kegiatan penilaian.
Cak Ji optimistis, Perpustakaan Herbal Nginden Jangkungan dapat menjadi Juara 1 di tingkat Jatim. Bahkan, ia berharap, ke depan perpustakaan ini dapat melaju ke tingkat Nasional dan menjadi juara. “Perpustakaan Herbal yang ada di Nginden Jangkungan teruslah berinovasi, terus berkembang dan mempunyai suatu inisiatif,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Dispusip Kota Surabaya, Musdiq Ali Suhudi mengungkapkan, bahwa Perpustakaan Herbal Nginden Jangkungan berhasil lolos menjadi 6 nominator terbaik tingkat Jatim. Menuju tahapan berikutnya, dewan juri melakukan penilaian secara langsung di lapangan. “Dan hari ini dewan juri melihat lokasi di lapangan. Apakah yang ada di proposal itu sesuai dengan di lapangan,” ujarnya.
Musdiq menyebut, dalam tahap visitasi penilaian, ada beberapa poin yang menjadi penekanan dewan juri. Di antaranya yakni, bagaimana pengelolaan perpustakaan itu berjalan, dampak perpustakaan terhadap kesejahteraan masyarakat, serta tingkat partisipasi masyarakat di dalam pengelolaan perpustakaan. “Alhamdulillah di Perpustakaan Herbal Nginden ini partisipasi masyarakat luar biasa. Tidak hanya masyarakat sekitar, juga ada partisipasi dari universitas,” ungkapnya.
Ia menilai, bahwa hadirnya perpustakaan di tengah-tengah pemukiman Surabaya ini, telah memberikan dampak positif kepada masyarakat. Utamanya, terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar. “Di sini kita bisa melihat dampak langsung adanya perpustakaan. Misalnya ada UMKM, kelompok kesenian, serta produk-produk yang memang menjadi multiplayer effect dengan adanya perpustakaan,” jelasnya.
Oleh karenanya, pihaknya berharap, perpustakaan yang terintegrasi dengan Kampung Herbal ini dapat menjadi Juara 1 tingkat Provinsi Jatim, sehingga melaju ke tingkat Nasional. Tentu, untuk mewujudkan hal itu perlu adanya beberapa perbaikan agar dapat mengikuti standar Nasional. “Saya kira sebenarnya secara umum kita sudah cukup bagus. Mungkin kalau untuk ke tingkat nasional, masukan-masukan yang tadi dari dewan juri akan kita perbaiki,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Perpustakaan Herbal Nginden Jangkungan, Eka Sri Lestari menjelaskan, bahwa sebenarnya ada saling keterkaitan atau integrasi antara perpustakaan dan Kampung Herbal. Artinya, kegiatan literasi di kampung ini langsung didukung dengan praktik di lapangan. “Misalnya dengan membaca buku itu langsung kita praktikan. Di sini ada lahan dan bahan herbal, itu kita praktikkan, kita manfaatkan,” jelasnya.
Perempuan yang juga menjadi Ketua PKK RT 9 / RW 5, Kelurahan Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo Surabaya, ini mengaku, bahwa secara bertahap, ia bersama para pengurus perpustakaan terus memaksimalkan segala potensi atau sumber daya yang ada. “Kita juga terus belajar, terus kita perbaikan, peningkatan juga apapun itu,” tuturnya.
Menurutnya, ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Salah satunya yakni melalui pemberdayaan dalam bentuk pelatihan mengolah bahan-bahan herbal menjadi produk yang lebih modern. “Hal-hal yang kuno itu kita lestarikan lagi dengan herbal. Tetapi dengan teori-teori yang lebih modern. Seperti mengolah jahe menjadi freshcare. Terus jamu-jamuan tradisional itu dikemas dengan menarik, menjadi produk UMKM yang lebih modern,” pungkasnya. (Hm/Fr)