
Surabaya, (DOC) – Keterbatasan sarana dan prasarana (sarpras) pendidikan masih menyelimuti kota metropolitan Surabaya. Di SDN Semolowaru IV, para siswa terpaksa belajar lesehan di perpustakaan hingga masuk siang akibat kekurangan ruang kelas dan kondisi bangku kayu yang berlubang serta tak layak pakai.
Kondisi keprihatinan ini terkuak saat Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pada Rabu (7/10/2026), menyusul maraknya aduan warga melalui hotline pengaduan kota.
Dari total 12 rombongan belajar (rombel), SDN Semolowaru IV hanya memiliki delapan ruang kelas. Akibatnya, empat rombel harus mengalah dengan masuk sekolah pada siang hari. Sebagian siswa lainnya terpaksa menempati perpustakaan tanpa meja dan kursi untuk menyerap materi pelajaran.
Melihat fakta di lapangan, Wali Kota Eri Cahyadi menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kelalaian pemenuhan fasilitas dasar sekolah negeri yang berada langsung di bawah naungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
“Saya minta maaf karena masih ada gedung pendidikan negeri di Surabaya yang kondisinya seperti ini. Padahal fasilitas ini sangat berpengaruh terhadap kenyamanan dan prestasi anak-anak Surabaya,” ujar Eri, Minggu (11/10/2026).
Eri menegaskan kepada Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya untuk melakukan perombakan skala prioritas anggaran.
Ia menyentil agar anggaran dialokasikan secara langsung untuk pemenuhan kebutuhan vital sekolah seperti penambahan ruang kelas, bangku, dan perbaikan toilet daripada menggelar kegiatan-kegiatan seremonial yang kerap membebani wali murid.
Sebagai bentuk komitmen, Pemkot Surabaya menargetkan penuntasan pembenahan seluruh sarpras SD dan SMP negeri se-Kota Surabaya pada tahun 2027.
Usulan Meja dan Kursi Mengendap Sejak Maret
Sementara itu, Kepala SDN Semolowaru IV, Novita Aprilianti, mengungkapkan bahwa keterbatasan sarpras tersebut membentengi upaya optimalisasi pembelajaran dari pihak sekolah.
Pihaknya mengaku telah berulangkali bersurat kepada dinas terkait sejak Maret 2026 lalu untuk pengadaan bangku dan kursi layak, namun tak kunjung direalisasikan hingga sidak Wali Kota berlangsung.
“Kami sudah mengupayakan pengaturan jadwal, tetapi kalau sudah terkendala sarpras, kami tidak bisa apa-apa lagi selain berkirim e-surat. Contohnya pengajuan bangku dan kursi kayu berlubang itu sudah kami ajukan sejak Maret, tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ungkap Novita.
Tak berhenti pada krisis fasilitas fisik, SDN Semolowaru IV juga dihadapkan pada krisis tenaga pendidik. Novita menyebut sekolahnya masih kekurangan tiga orang guru, yang memaksa para guru yang ada harus merangkap tugas mengajar demi memastikan KBM tetap berjalan.





