
Surabaya,(DOC) – Pemerintah Kota Surabaya kembali meluncurkan Inovboyo 2025, sebuah gebrakan besar yang menggabungkan teknologi, budaya, dan kreativitas warga menjadi ekosistem inovasi berkelanjutan. Lewat 4 inovasi kepemudaan dan 16 inovasi budaya, Surabaya menunjukkan transformasi yang tidak hanya digital, tetapi juga sosial dan kultural.
Kepala Bappedalitbang Surabaya, Irvan Wahyudrajad menyebut bahwa Inovboyo 2025 bukan sekadar kompetisi, melainkan kendaraan strategis menuju Surabaya sebagai barometer inovasi nasional. Fokus utamanya adalah keterlibatan aktif pemuda dan pelestarian budaya lewat pendekatan kekinian.
Salah satu garda terdepan inovasi budaya adalah Rumah Kreatif Balai Pemuda, yang setiap akhir pekan menggelar kelas seni gratis mulai dari tari, sastra, lukis, hingga MC berbahasa Jawa. Program ini berhasil menjangkau warga lintas usia sekaligus menjadi benteng budaya dari seni tradisional seperti ludruk dan karawitan.
ARTSUBS 2025 juga akan digelar di Balai Pemuda mulai 2 Agustus – 7 September. Lebih dari 120 seniman akan memamerkan karya kontemporer dengan tema Material Ways, menegaskan posisi Surabaya sebagai pusat seni urban di Indonesia.
Surabaya juga punya 44 Kampung Tematik sebagai wajah ekonomi kreatif berbasis lokal. Tiga kategorinya: Kampung Unggulan (seperti Kampung Semanggi, Kue, dan Lontong), Kampung Wisata (seperti Wethan Wonderland), dan Kampung Ekologi (seperti Tenggilis Mejoyo yang mendaur ulang tutup botol plastik).
Simpul Kreatif
Semangat inovasi diperluas ke seluruh wilayah kota lewat Simpul Kreatif di 31 kecamatan yang menggabungkan co-working space dan creative hub. Semua lahir dari aspirasi pemuda yang di kumpulkan lewat forum CAS (Cangkrukan Arek Suroboyo).
Pemkot juga memperkuat digitalisasi UMKM lewat aplikasi E-Peken, yang kini mendorong lebih dari 60.000 UMKM naik kelas. Kisah sukses seperti Ipah dan Kasmono dari Kampung Lumpia jadi contoh nyata dampak inovasi terhadap ekonomi rumah tangga.
Inovasi dari masyarakat juga beragam. Disbudporapar mengembangkan Koridor Co-Working Space, Kecamatan Sukolilo punya Podolilo, dan Genteng meluncurkan Gercep dan Getar. Dari sisi budaya, muncul inisiatif seperti Kampung Lawas ex-Lokalisasi, Kampung Batik Tin, hingga Kampung Jamu dan Wisata Ketandan.
“Inovboyo bukan tentang lomba. Ini cara kita mencetak generasi problem solver dan membuat Surabaya jadi ekosistem inovasi yang hidup,” tegas Irvan.
Puncaknya, program ini akan di kurasi dan di nilai oleh para pakar dari akademisi, Kemendagri, dan BRIDA Jatim. Para pemenang tidak hanya mendapat penghargaan, tetapi juga peluang realisasi di level kebijakan Pemkot. (r6)





