
Surabaya,(DOC) – Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) akan membangun Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) baru di belakang TPS 3R Terminal Osowilangon (TOW) mulai tahun 2026 mendatang. Pembangunan ini merupakan langkah lanjutan dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah terpadu yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Kepala DLH Kota Surabaya, Dedi Irianto, mengatakan bahwa TPST ini akan berdiri di atas lahan seluas dua hektare. Nantinya, TPST juga di rancang untuk menjadi pengembangan dari fasilitas TPS 3R yang telah beroperasi. Jika TPS 3R hanya berfungsi untuk memilah sampah dan membuang sisanya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, maka TPST akan lebih canggih dengan adanya teknologi pemrosesan lanjutan.
“Kalau TPS 3R hanya memilah, TPST nanti akan di lengkapi alat pengurang sampah seperti insinerator atau pirolisis, sehingga residu yang masuk ke TPA bisa di tekan jauh lebih kecil,” jelas Dedi saat meninjau Taman Apsari, Rabu (20/8/2025).
Sampah Jadi Energi dan Produk Bernilai Jual
Lebih lanjut, Dedi menjelaskan bahwa pengolahan sampah di TPST tidak harus melalui proses pembakaran. Teknologi pemanasan tanpa oksigen juga bisa di gunakan untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar padat atau cair yang memiliki nilai ekonomi.
“Bisa juga di olah tanpa di bakar. Cukup di panaskan, nanti hasilnya bisa menjadi produk bahan bakar yang bisa di jual,” tambahnya.
Dengan kapasitas pengolahan 150 ton sampah per hari, TPST Osowilangon juga akan di lengkapi “spirit station”, semacam stasiun pemisahan lanjutan untuk menangani jenis sampah besar yang sulit diolah, seperti kasur, sofa, lemari, dan ban bekas.
“Barang-barang seperti kasur springbed akan di kumpulkan di gudang khusus. Di sana nanti akan kami preteli dan proses agar komponen-komponennya bisa di jual kembali. Kami juga sedang mempelajari alat bongkar kasur springbed,” kata Dedi.
Investasi Rp30 Miliar, Struktur Lokal Berbasis Teknologi Modern
DLH memperkirakan pembangunan TPST ini akan membutuhkan investasi sekitar Rp30 miliar. Meskipun teknologi yang di gunakan sebagian akan berasal dari luar negeri, struktur utama fasilitas tetap di rancang menggunakan produk lokal. Pendekatan ini di lakukan untuk menekan biaya, mempercepat pemeliharaan, dan memastikan keberlanjutan operasional.
Melalui pembangunan TPST ini, Pemkot Surabaya berharap bisa memperkuat sistem pengelolaan sampah yang modern, terdesentralisasi, dan mandiri. Hal ini juga sejalan dengan target jangka panjang kota dalam mengurangi ketergantungan pada TPA serta mendorong ekonomi sirkular di tingkat kota.
“Harapannya, sistem pengelolaan sampah Surabaya akan makin efisien, modern, dan tentunya lebih ramah lingkungan,” pungkas Dedi. (r6)





