Di Coret KONI, Walikota Siap Tampung Mega Aramita

Surabaya,(DOC) – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini merespons surat terbuka yang ditujukannya dari salah satu atlet atletik Mega Aramita yang tidak masuk dalam tim Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) perwakilan Surabaya.”Wali kota perempuan di Surabaya ini sudah siap menerima Mega. Tadi saya mendapat informasi kalau bu Risma sudah menghubungi Dispora bertanya soal Mega,” kata orang tua Mega, Endang saat mengadiri undangan dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) di kantor Dispora Surabaya, Kamis(28/5/2015) kemarin.

Kepala Bidang Olahraga dan Prestasi Dispora Surabaya Edi Santoso saat menggelar pertemuan dengan orang tua Mega Aramita mengatakan parameter keberangkatan atlet ke Porprov adalah mereka yang berprestasi dan berpeluang mendapatkan medali emas, perak dan perunggu.”Pencoretan atlet adalah kewenangan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Surabaya dengan alat ukur yang sudah ditentukan seperti limit atau batas waktu,” katanya.

Bacaan Lainnya

Menurut dia, KONI tidak akan memberangkatkan atlet yang tidak mampu mencapai batas waktu atau limit, meski dalam seleksi Porprov menduduki peringkat 1.

Edi menjelaskan, hasil terakhir dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) Jawa Timur Terbuka 2015, Mega berada di rangking 4 dan 5, sehingga KONI tidak memberangkatkannya ke Porprov 2015.”Di cabang atletik, Surabaya mengincar nomor estafet, sesuai dengan hasil yang didapat di Kejurda Jatim. Mega seharusnya tidak boleh melihat atlet di nomor lainnya, karena dia ada nomor spesialis,” katanya.

Terkait dengan sikap Dispora, Endang selaku ibu Mega, mengatakan jika memang yang digunakan alat ukur adalah hasil Kejurda Jatim 2015, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Namun, Endang mempertanyakan ketidakmampuan Dispora dalam menunjukkan piagam penghargaan yang diperoleh atlet yang prestasinya berada di bawah Mega. Hal ini, kata Endang, sempat disampaikan Edi bahwa piagam penghargaan bisa diliat di Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) kota Surabaya. “Kalau KONI mematok piagam di Kejurda, jelas Mega tidak punya. Tapi ketika saya tanya soal piagam penghargaan atlet cadangan yang berangkat ke Porprov, mereka tidak bisa menunjukkan,” cetusnya.

Terkait dengan sikap selanjutnya, Endang mengatakan, akan melihat perkembangan. Yang terpenting saat ini adalah memulihkan kondisi psikis Mega yang sempat turun setelah dinyatakan tidak lolos dalam tim Porprov kota Surabaya. Ia juga berharap, di masa mendatang tidak ada kejadian seperti ini. Jika terus terjadi, nasib atletik di kota Surabaya tidak akan semakin baik. Adapun isi surat terbuka itu adalah berbagi cerita dan pengalaman selama perjalanannya sebagai atlit yang membela Surabaya melalui Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) kota Surabaya.

Mega mengatakan, ketidakadilan yang dialaminya adalah tidak adanya alasan pencoretan dirinya dari skuad atletik kota Surabaya di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur pada 3-6 Juni 2015. Sebelumnya, Mega sempat muncul di tim cadangan, sebelum akhirnya digantikan oleh atlit yang prestasinya jauh dibawahnya. Jika bertemu dengan Risma, Mega akan mengutarakan kegelisahan, kesedihan serta penderitaan yang dialami pascapencoretan namanya dari tim atletik kota Surabaya. Selain berkirim surat terbuka melalui facebook milik Rismaharini, Mega juga mengantarkan surat tersebut secara langsung kepada Rismaharini serta PASI kota Surabaya, KONI Surabaya dan Jatim serta Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) kota Surabaya.

Selama membela kota Surabaya, Mega banyak meraih prestasi di antaranya meraih 2 medali perunggu di nomor lompat jauh putri di Kejurnas Atletik Antar Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) – Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM) 2015 di Aceh. Meraih 2 medali perak di Pekan Olahraga Daerah (Popda) Jawa Timur 2014 , serta 1 medali emas di Kejuaraan Daerah Jawa Timur 2014. Di seleksi Porprov 2015 ini, Mega juga berhasil menduduki peringkat 1 untuk kategori lompat jauh.(r7)