Surabaya,(DOC) – Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini akan menjadikan program pahlawan ekonomi (PE) Surabaya untuk percontohan nasional.
Konsep PE yang telah di gagasnya sejak Mensos Risma menjabat sebagai Wali Kota Surabaya sejak tahun 2010 lalu, di harapkan dapat mendongkrak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di pelosok negeri untuk berkembang.
Saat berkunjung ke salah satu outlet anggota PE, Diah Cookies di Kampung Ketandan, Mensos Risma menyatakan, bahwa tahun ini, para peserta PE dari Surabaya akan mulai menjadi mentor.
Mereka di ajak keliling mengenalkan startegi menjaga bisnis UMKM secara nasional, khususnya di wilayah Indonesia Timur.
“Itulah yang kami mulai. Sebab, teman-teman timur ini sebenarnya punya keinginan dan pekerja keras. Sehingga, kemudian kami ajari marketing produk, branding, hingga packaging,” kata Mensos di Surabaya.
Mensos Risma bersama jajaran Kementerian Sosial (Kemensos) berkunjung di Kampung Ketandan, Kecamatan Genteng, Surabaya, Sabtu(25/6/2022) pagi, sekaligus meninjau pelaksanaan Hybrid Bazaar Roadshow dan opening workshop Pahlawan Ekonomi 2022.
Hadir pada acara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan para pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Nampak hadir juga para pengusaha UMKM yang merupakan alumni program Pahlawan Ekonomi di Surabaya.
Pelaku UMKM alumni Pahlawan Ekonomi satu persatu, menyampaikan testimoni soal keberhasilannya.
Mensos bercerita, PE terbangun dengan semangat bersama mengubah nasib warga kurang mampu. Melalui pemberdayaan UMKM, warga diajarkan dalam hal produksi, pengemasan, perizinan, hingga marketing.
Hasilnya, para pelaku UMKM sukses memasarkan berbagai produk hingga ke luar negeri. Tak sedikit pula, sebagian dari mereka juga merekrut banyak tenaga kerja.
Menariknya, Pemkot Surabaya tak mengeluarkan kocek APBD untuk memberikan bantuan dalam bentuk modal. “Sebetulnya, modal ini nomor sekian,” ucap Mensos Risma.
“Selalu kalau ngomong usaha, saya selalu ditanyai modal dari mana. Tapi, pembelajaran dari pahlawan ekonomi, kuncinya bukan modal melainkan semangat,” tambahnya.
Semangat yang tak kenal menyerah itulah yang membuat para pahlawan ekonomi naik kelas dari sisi ekonomi. “Dari yang awalnya di grade paling rendah, melompat di level tinggi dari sisi ekonomi,” terang Mensos.
Peserta PE merupakan ibu-ibu rumah tangga dari keluarga miskin yang di tuntun untuk mengembangkan bisnis di skala UMKM melalui pelatihan dan pendampingan komprehensif.
Jumlah UMKM naik pesat, kala itu. Mensos menjelaskan, tahun pertama (2010), jumlah UMKM yang ikut pelatihan 92 UMKM. Kemudian, naik hingga mencapai 8.565 UMKM setelah 7 tahun berlangsung.
Program PE juga memberi pelatihan manejemen keuangan. Sehingga, uang yang di gunakan usaha tak hanya habis untuk produksi, namun juga bisa untuk keperluan mendesak lainnya.
“Memang, di program pahlawan ekonomi bukan hanya kualitas marketing, branding, atau packaging saja. Namun juga diajari manajemen keuangan,” papar Mensos.
“Sehingga, mereka bisa memiliki tabungan untuk masa tua. Jadi, tidak langsung habis. Mereka punya kantong untuk kesehatan, pendidikan, hingga asuransi,” tambahnya.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi juga mendukung program tersebut. Bukan cuma di tingkat nasional, intervensi di berikan pula oleh Pemkot Surabaya
Para pengusaha yang sukses melalui program Pahlawan Ekonomi menjadi mentor untuk pelaku UMKM baru lainnya. “Pahlawan ekonomi adalah UMKM yang bergerak,” ungkap Cak Eri sapaan akrab Wali Kota Surabaya pada kesempatan sama.
Menurut dia, mereka bisa menarik tenaga kerja hingga mengajak UMKM baru.
“PE akan memberikan pengalaman sekaligus semangat untuk bertarung,” tambahnya.
Cak Eri berpendapat, bahwa semangat berjuang menjadi penting dalam memulai usaha. “Sehingga, tidak pesimis dan bisa berhasil. Ini kami kuatkan lagi . Siapa yang mau berusaha dan punya keyakinan pasti berhasil,” pungkas mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini.(robby/r7)





