Bandung,(DOC) – Wajah Adi terlihat serius menata bungkusan cemilan di depannya. Tangannya cekatan memilah bungkusan makanan ringan yang ia kelompokkan sesuai jenisnya.
Di ruangan yang sama, bungkusan snack kiloan masih berjejer. “Yang besar-besar ini untuk stock. Kalau habis yang kecil-kecil (bungkusan makanan ringan), nanti di bungkus lagi dari stock ini,” katanya sambil menunjuk beberapa bungkusan makanan ringan yang sudah habis setengahnya.
Adi baru saja menyewa toko di Pasar Junti Ketapang, Caringin Bandung. Ia mendapatkan bantuan modal usaha dan kewirausahan dari Kementerian Sosial yang di berikan melalui Sentra Wyata Guna di Bandung.
Penampilan pria asal Bandung ini terlihat rapi. Atasan kemeja batik motif kombinasi warna merah hati dan hitam, bawah celana chinos dengan warna senada, dan sepatu sneaker hitam. Sulit di percaya, pemuda bernama lengkap Adiat Barkah Nasrullah, itu sebelumnya adalah eks psikotik.
Saat di temui, ia baru saja menghadiri peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Bekasi. Di acara itu, Adi berkesempatan bertemu Menteri Sosial Tri Rismaharini yang menyerahkan secara langsung bantuan Asistensi Sosial kepadanya.
Sejak Januari 2022, Adi menjalani masa rehabilitasi di Sentra Wyata Guna. Selama delapan bulan di bimbing, Adi mulai mawas diri. Penyuka musik ini mulai menemukan arah hidup. “Selama di Wyata Guna saya di ajari gitar sama vokal, ada pelatihnya. Kebetulan saya hobi musik, saya pengennya jadi musisi, belajar musik terus,” katanya saat di temui di kediaman kakaknya di Soreang, Bandung, Kamis(6/10/2022).
Tapi musik tidak bisa menjadi sandaran hidup. Adi bersedia mengikuti pembinaan ketrampilan kewirausahaan. “Di Wyata Guna di arahin ke kegiatan berjualan. Dari sana saya tekuni. Soalnya kalau di musik terus sedangkan saya tidak punya tempat tinggal. Masa saya kembali ke masa lalu, mengamen di jalanan. Saya gak mau. Saya ingin mengubah hidup saya jadi lebih baik lagi,” ujarnya.
Suasana penuh kasih sayang, dengan sentuhan kemanusiaan di Sentra Wyata Guna mampu membangkitkan semangat Adi. Bimbingan, konseling, dan kegiatan lain serta perlakuan yang di terimanya, membuat Adi merasa di akui dan di hargai eksistensinya.
“Banyak-banyak terima kasih buat Wyata Guna, para peksos, semuanya. Di sini saya di bimbing menjadi orang yang lebih baik. Alhadulillah saya bisa menerapkan apa yang mereka arahkan kepada saya,” katanya.
Pasca rehabilitasi, Adi di nyatakan siap di reunifikasi ke keluarganya di Caringin, Kabupaten Bandung. Saat reunifikasi, Adi di sambut oleh kakak dan iparnya. “Alhamdulillah ada kemajuan, mudah-mudahan ke depan bisa mandiri, lancar, bener-bener bisa sukses kayak orang-orang,” kata Diah Wardia Fajriani, kakak kandung Adi.
Diah sangat peduli pada adiknya. Dua atau tiga minggu sekali, Diah menengok Adi di Wyata Guna. “Namanya juga adek kandung, sedarah, yang di titipin almarhum orangtua. Sampai kapan pun tetap adik saya, mau bagaimana pun itu,” kata Diah seraya menyapu air matanya.
Diah tak mampu menahan tangisnya ketika mengingat kembali perjuangan orangtua mencari kesembuhan untuk Adi sejak 2007.
Pada kesempatan berbeda, Dadang Yuda Karsono – Pekerja Sosial yang menangani Adi, mengatakan reunifikasi Adi telah melalui prosedur yang di tetapkan, yakni melalui case conference (CC) atau temu bahas kasus untuk memutuskan layanan lanjutan untuk Adi.
“Saat CC, dia mendapatkan ulasan positif dari pegawai lain. Seperti di SKA (Sentra Kreasi Atensi), dia sudah bisa mengelola uang bersih-bersih juga, sehingga kita putuskan layak untuk dikembalikan ke tengah masyarakat,” kata Pekerja Sosial Ahli Muda ini.
Selama di Wyata Guna, empat bulan Adi mengelola mini market sebelum di nyatakan sehat oleh dokter. Untuk membangun kemandirian ekonomi, Kemensos memberikan bantuan modal usaha berupa toko cemilan tradisional senilai Rp6,3 juta.
Adapun kisah Adi di mulai saat ia berusia 18 tahun. Ketika itu, Adi mengalami kenaikan suhu tubuh ekstrim yang memaksanya di rawat di rumah sakit selama 40 hari. Tindakan medis di lakukan dengan pengambilan cairan otak dan sumsum tulang belakang sebanyak dua kali.
Namun, sudah bolak-balik ke rumah sakit, penyakit Adi tak kunjung di temukan. Pria 33 tahun itu mengalami kesulitan mengontrol perilaku, cenderung impulsif dan mudah marah. Ia juga kerap mengalami delusi yang berujung pada perilaku agresif.
Berbagai cara sudah di lakukan keluarga, dari tindakan medis hingga tradisional tapi tidak membuahkan hasil. Kondisi ini di perparah dengan meninggalnya sang ibu kemudian di susul ayahnya. Beban psikologis tak terkira beratnya, Adi makin hilang arah. Namun kini Adi bisa bernafas lega, masa kelam itu telah berhasil ia lalui. Sekarang, ia hanya ingin menjadi orang yang sukses yang bisa membahagiakan orang-orang di sekitarnya.(hm/r7)




