Strategi Tingkatkan Kemandirian Petani melalui Pertanian Organik

Surabaya, (DOC) – Ketergantungan Indonesia pada impor pangan semakin mengkhawatirkan. Situasi ini menunjukkan betapa besarnya ketergantungan negara ini pada pangan dari luar negeri. Isu ini menjadi sorotan utama dalam webinar Gugutalk 1.0: Petani Berdaya, Alam Terjaga. Tema utamanya adalah “Intervensi Menginspirasi: Membangun Petani Organik yang Terampil”.

Bacaan Lainnya

Webinar ini menghadirkan diskusi antara akademisi, praktisi, dan pegiat pertanian organik. Mereka membahas berbagai tantangan dan peluang dalam pertanian organik di Indonesia.

Pertanian organik di anggap sebagai solusi berkelanjutan. Selain mendukung pelestarian ekosistem dan ketahanan pangan, pendekatan ini juga berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

Dr. Ernoiz Antriyandarti, ekonom dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), menyatakan bahwa penerapan pertanian organik masih menghadapi banyak kendala. Salah satu kendala terbesar adalah persepsi petani. Mereka menganggap bahwa pertanian organik lebih rumit di bandingkan pertanian konvensional.

“Meskipun pertanian telah menjadi tradisi turun-temurun, praktik pertanian organik masih dirasakan sulit. Petani kesulitan beradaptasi dengan teknologi baru. Pertanian organik di anggap lebih merepotkan. Selain itu, masih ada anggapan bahwa produk organik lebih mahal,” jelas Dr. Ernoiz.

Dr. Ernoiz menekankan pentingnya dukungan kolaboratif dari berbagai pihak. Pemerintah, akademisi, dan sektor swasta harus bekerja sama. Tujuannya untuk menciptakan ekosistem yang mendukung petani agar lebih mandiri dan produktif.

“Penguatan ekonomi berbasis pertanian organik adalah kunci menuju ketahanan pangan yang lebih baik. Kolaborasi lintas sektor menjadi elemen penting,” tambahnya.

Joko Puspito, pegiat pertanian organik dan pemilik Berkah Dua Agri, juga mengungkapkan tantangan utama dalam menerapkan pertanian organik di pedesaan. Terdapat tiga tantangan utama: perubahan iklim, kelembagaan petani, dan biaya sertifikasi produk organik yang mahal.

Joko menegaskan bahwa pertanian organik bukan hanya tren, tetapi kebutuhan mendesak untuk masa depan. Inovasi berkelanjutan sangat diperlukan. Hal ini untuk memastikan petani Indonesia siap menghadapi tantangan global. Tantangan itu termasuk perubahan iklim dan ketergantungan pada bahan kimia pertanian.

Baca Juga:  Fakta di Balik Video Viral Camat Asemrowo, Ini Penjelasannya

Dr. Rissalwan Habdy Lubis, Principal Consultant dari Nice Indonesia, menekankan pentingnya intervensi yang tepat. Intervensi di butuhkan untuk membangun ekosistem pertanian organik yang tangguh.

Dukungan Teknologi dan Pendidikan

Dukungan teknologi dan pendidikan bagi petani organik sangat penting. Kedua hal itu adalah kunci untuk menciptakan pertanian yang efisien dan berdaya saing.

Menurutnya, kombinasi inovasi dan pelatihan intensif dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas pertanian organik secara signifikan.

Gugula, sebagai produk gula aren dan organisasi berdampak, berbagi pengalaman mereka dalam intervensi pertanian organik di Desa Ciherang, Kabupaten Lebak.

Johan Maputra, Co-Founder Gugula, menjelaskan bahwa petani di desa tersebut menghadapi kesulitan dalam mengakses pupuk bersubsidi. Mereka juga memiliki keterbatasan pengetahuan pertanian.

“Kami melihat potensi besar pada petani di Desa Ciherang. Terutama dalam pengembangan pertanian organik. Oleh karena itu, kami melakukan intervensi dengan mendampingi dan mengedukasi petani agar terampil dalam bertani organik,” ujar Johan.

Johan menekankan bahwa kunci keberhasilan intervensi adalah perubahan perilaku masyarakat melalui figur local champion. Figur ini dapat menjadi teladan bagi petani lainnya. Gugula melakukan kunjungan studi dan praktik pembuatan pupuk organik dengan kelompok tani Taruna Tani di Desa Gentungan, Mojogedang, Karanganyar.

“Kami mendampingi local champion dalam peralihan ke pertanian organik. Mulai dari kunjungan studi hingga menyediakan benih padi varietas Sintanur. Keberhasilan local champion ini kemudian di ikuti oleh petani lainnya,” tambahnya.

Pertanian organik yang berkelanjutan diharapkan menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia di masa depan. Keberhasilan petani organik dalam mengadopsi praktik-praktik baru tidak hanya akan meningkatkan kualitas hasil pertanian.

Namun, juga kesejahteraan mereka serta kelestarian lingkungan. Petani organik yang terampil akan menjadi ujung tombak dalam upaya ini. Mereka akan menjadi agen perubahan yang membawa Indonesia menuju masa depan pertanian yang lebih baik, kompetitif, dan berkelanjutan. (r6)

Pos terkait