Surabaya,(DOC) – Banjir yang melanda kawasan Gunung Anyar, Surabaya pada 24-25 Desember 2024, kembali memicu keresahan warga, hingga Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya turun tangan terobos kewenangan BBWS Brantas.
Selama dua hari hujan turun deras, aliran Kali Perbatasan yang terhambat oleh eceng gondok dan sedimentasi tinggi, menyebabkan banjir merendam pemukiman.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Gunung Anyar, Muchson, mengatakan bahwa ia telah mengajukan permohonan kepada Dinas PU Sumber Daya Air (SDA) Jawa Timur dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas untuk melakukan normalisasi Kali Perbatasan pada Maret 2024. Meskipun sudah ada janji untuk pengerukan pada Juli 2024, hingga kini belum ada langkah nyata.
“Sudah dangkal, banyak eceng gondok, dan air tidak bisa mengalir lancar ke laut. Akibatnya, air rob dan hujan deras menumpuk di sini dan menyebabkan banjir,” ujar Muchson.
Gerak Cepat Wali Kota Eri Cahyadi Jadi Harapan
Meskipun bukan kewenangan Pemkot Surabaya, Wali Kota Eri Cahyadi turun langsung untuk membantu menangani banjir di Gunung Anyar. Ketua RT 03 RW 03, Khoirul Akbar, menyampaikan terima kasih atas respons cepat yang di berikan Wali Kota. “Meskipun ini bukan wilayahnya, Cak Eri datang langsung di hujan pertama dan kedua, memastikan aliran air lancar agar warga tidak kebanjiran,” kata Khoirul.
Khoirul berharap Pemkot Surabaya bisa terus mengerjakan pembersihan Kali Perbatasan meskipun bukan menjadi kewenangan mereka. “Jika Pemkot terpaksa menangani, jangan dipersulit dengan izin-izin yang berbelit,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua RT 01 RW 03, Sumadi, juga menyampaikan rasa terima kasih atas langkah cepat Pemkot Surabaya yang langsung membersihkan Kali Perbatasan. Dengan pembersihan ini, warga berharap banjir bisa dihindari, terutama saat cuaca ekstrem. “Air akan cepat meluap jika eceng gondok dan sedimen memenuhi kali. Pembersihan ini sangat penting agar kampung kami tidak terendam lagi,” kata Sumadi.
Pemkot Surabaya Terus Bergerak, Meski Kewenangan Milik BBWS
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Syamsul Hariadi, menjelaskan bahwa penyebab utama banjir adalah eceng gondok yang menyumbat aliran Kali Perbatasan. “Pak Wali Kota Eri langsung memerintahkan kami untuk bergerak cepat. Sejak dua hari lalu, kami sudah mulai membersihkan eceng gondok menggunakan alat berat,” ungkap Syamsul.
Walau Kali Perbatasan berada di bawah kewenangan BBWS Brantas, Pemkot Surabaya tetap terobos mengambil langkah darurat. “Pak Wali Kota bilang yang penting segera di kerjakan, tak peduli siapa yang berwenang. Kami langsung koordinasi dengan BBWS Brantas dan pengelola tol,” tambah Syamsul.
Syamsul juga menekankan bahwa pembersihan eceng gondok saja belum cukup. Untuk solusi jangka panjang, normalisasi Kali Perbatasan yang meliputi pengerukan sedimen dan pengaturan saluran air sangat di perlukan. “Jika Kali Perbatasan di normalisasi, wilayah Gunung Anyar, Rungkut Menanggal, dan Siwalankerto akan aman dari banjir. Pembersihan eceng gondok ini hanya langkah awal,” tegas Syamsul.
Pembersihan Kali Perbatasan di nilai sangat vital, tidak hanya untuk Surabaya, tetapi juga untuk kawasan Sidoarjo seperti Pondok Candra dan Tropodo. “Jika Kali Perbatasan bersih, Insya Allah banjir di kawasan-kawasan tersebut bisa terhindarkan,” ujarnya.
Harapan Warga: Kerja Sama Semua Pihak
Warga Gunung Anyar berharap langkah-langkah darurat yang di ambil Pemkot Surabaya dapat diikuti dengan normalisasi yang lebih komprehensif dari pihak BBWS Brantas dan Dinas PU SDA Jawa Timur. Mereka berharap solusi jangka panjang dapat mengatasi masalah banjir yang sudah bertahun-tahun terjadi.
“Jangan sampai kampung kami tenggelam. Di harapkan ada perbaikan saluran dan pengerukan sedimen untuk mengembalikan fungsi Kali Perbatasan seperti semula,” ujar Sumadi.
Pembersihan Kali Perbatasan adalah langkah awal yang penting, namun normalisasi menyeluruh tetap menjadi kunci untuk mencegah bencana banjir lebih lanjut.(rob/r7)





