Kredit UMKM Hanya Tumbuh 1,82 Persen, Pakar Ingatkan Dampak ke Pertumbuhan Ekonomi

Kredit UMKM Hanya Tumbuh 1,82 Persen, Pakar Ingatkan Dampak ke Pertumbuhan Ekonomi

Sidoarjo, (DOC) – Pertumbuhan kredit perbankan nasional kembali melambat. Pada Juli 2025, penyaluran kredit hanya tumbuh 7,03 persen year on year (yoy). Angka ini lebih rendah di bandingkan Juni yang masih mencapai 7,77 persen yoy.

Bacaan Lainnya

Menurut Pakar Ekonomi Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA) Sidoarjo, perlambatan ini bukan di sebabkan kekurangan dana. Dana pihak ketiga (DPK) justru naik 7 persen yoy, menunjukkan likuiditas bank cukup longgar.

“Masalah utamanya ada pada sikap perbankan yang terlalu hati-hati. Mereka lebih memilih menaruh dana di surat berharga yang aman dan likuid, daripada menyalurkan kredit produktif,” jelasnya.

Risiko Kredit dan Lemahnya Permintaan

Ia menilai, ada dua faktor yang berjalan bersamaan. Pertama, risiko kredit bermasalah masih membayangi. Data OJK menunjukkan rasio NPL perbankan terjaga di 2,28 persen, namun untuk UMKM jauh lebih tinggi yaitu 4,53 persen.

Kedua, permintaan kredit dari dunia usaha juga belum kuat. Banyak pelaku usaha lebih memilih menggunakan modal internal ketimbang mengajukan pinjaman.

“Jadi, bank hati-hati, sementara permintaan juga lemah. Inilah yang membuat kredit tidak bergerak cepat,” katanya.

Bunga Kredit Tak Kunjung Turun

Bank Indonesia sudah menurunkan suku bunga acuan empat kali sepanjang 2025. Saat ini, BI Rate berada di 5,0 persen.

Namun, suku bunga kredit perbankan tidak banyak berubah. Angkanya masih bertahan di kisaran 9,16 persen.

“Transmisi kebijakan tidak berjalan lancar. BI sudah memberi ‘jalan tol’ lewat bunga acuan yang rendah, tapi bank masih memilih ‘jalan pelan’,” ujar pakar UMAHA.

Dampak bagi Ekonomi Semester II

Lambatnya penyaluran kredit bisa menahan laju ekonomi di paruh kedua tahun ini. Kredit modal kerja hanya naik 3,08 persen yoy, sementara kredit UMKM lebih rendah lagi di 1,82 persen yoy.

“Investasi berisiko tertahan karena modal kerja terbatas. UMKM juga kesulitan ekspansi. Kalau kondisi ini berlanjut, target pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,1 persen – 5,4 persen bisa tertekan,” jelasnya.

Baca Juga:  Warga Desa Sememu Mandiri Usai Graduasi PKH

Sektor yang Paling Membutuhkan Kredit

Menurutnya, ada tiga sektor yang harus jadi prioritas. Pertama, UMKM, karena kontribusinya besar terhadap tenaga kerja dan konsumsi rakyat, tetapi pertumbuhan kreditnya sangat rendah.

Kedua, korporasi dan industri, yang meski masih tumbuh 9,6 persen yoy, lajunya mulai melambat. Ketiga, sektor ekspor seperti pertambangan, perkebunan, transportasi, dan industri yang menopang daya saing sekaligus neraca eksternal.

“Kalau kredit di arahkan ke sektor-sektor itu, dampaknya bisa luas. UMKM menggerakkan konsumsi, industri mendukung investasi, dan ekspor menjaga perekonomian eksternal,” katanya.

Langkah Agar Bank Lebih Berani

Agar kredit lebih mengalir, ia menyarankan beberapa langkah. Bank perlu memanfaatkan insentif Kredit Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk sektor prioritas.

Selain itu, suku bunga dasar kredit (SBDK) harus lebih transparan dan kompetitif. Perbankan juga bisa memperkuat manajemen risiko melalui digitalisasi credit scoring serta memperluas kerja sama dengan pemerintah lewat program penjaminan kredit.

“Kalau bank terus bermain aman di surat berharga, ekonomi sulit tumbuh lebih cepat. Kredit produktif harus di prioritaskan untuk mendukung pemulihan,” tegasnya. (r6)

Pos terkait