Modal Asing Masuk Deras, ULN Indonesia Tembus Rp8.093 Triliun di Q2 2026

Modal Asing Masuk Deras, ULN Indonesia Tembus Rp8.093 Triliun di Q2 2026
Ilustrasi keuangan domestik. (Foto: Ist)

Jakarta, (DOC) – Derasnya modal asing yang mengalir ke instrumen keuangan domestik mendorong Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh 4,4 persen (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat total posisi ULN nasional kini menyentuh 453,4 miliar dolar AS atau setara Rp8.093 triliun (kurs Rp17.850/USD).

Peningkatan utang luar negeri ini dinilai menjadi sinyal positif tingginya kepercayaan investor global terhadap ketahanan ekonomi nasional, terutama di tengah gejolak ketidakpastian pasar keuangan dunia. Posisi ULN mencapai USD 453,4 Miliar (Naik 4,4% yoy), hal dipicu serbuan modal asing di Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, kondisi ULN swasta melambat ke 0,6 persen yoy (Sinyal pemulihan sektor privat).

Bacaan Lainnya

Peningkatan posisi ULN publik menjadi motor utama pertumbuhan utang luar negeri pada periode ini. ULN pemerintah tercatat sebesar 216,3 miliar dolar AS (tumbuh 2,9% yoy), yang utamanya didorong oleh masuknya aliran dana asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN).

Kondisi tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang dinilai tetap terjaga,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Rabu (19/8/2026).

Di saat yang sama, ULN bank sentral juga meningkat signifikan. Hal ini dipicu oleh tingginya minat investor nonresiden terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) instrumen moneter pro-marketyang diandalkan BI untuk memikat modal asing sekaligus memperkuat benteng stabilitas nilai tukar Rupiah.

Pemerintah memastikan bahwa penarikan utang luar negeri dikelola secara fleksibel, terukur, dan difokuskan pada pembiayaan sektor-sektor produktif dalam APBN. Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah antara lain digunakan untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial dengan porsi 22,0 persen dari total ULN pemerintah.

Berikutnya administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,6 persen; jasa pendidikan 16,2 persen; konstruksi 11,5 persen; serta transportasi dan pergudangan 8,5 persen.

Baca Juga:  Jatim Bertumbuh, Kopi dan Rempah Jadi Penyelamat Ekonomi di Tengah Gejolak Global

Sementara itu, ULN sektor swasta masih mencatatkan kontraksi tipis sebesar 0,6 persen (yoy) dengan nilai total 194,6 miliar dolar AS. Meski demikian, angka ini menunjukkan perbaikan signifikan dibanding triwulan I 2026 yang sempat terkontraksi hingga 1,3 persen.

Mulai membaiknya aktivitas utang swasta ditopang oleh sektor lembaga keuangan yang kontraksinya melandai dari -6,3 persen menjadi 3,4 persen. Sebagian besar ULN swasta dipasok ke empat industri vital pengolahan, jasa keuangan & asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan, dengan kontribusi mencapai 79,4 persen.

Meskipun secara nominal ULN Indonesia bertambah, BI menegaskan bahwa risiko finansial tetap sangat terkendali. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level aman 30,6 persen.

Dominasi utang berjangka panjang juga menjadi penopang utama ketahanan struktur utang Indonesia adalah 82,1 persen dari total ULN nasional merupakan utang jangka panjang dan 75,7 persen dari total ULN swasta berjangka panjang.

BI dan pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi pemantauan guna memastikan pemanfaatan ULN berjalan optimal dalam mendukung pembangunan nasional tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi.

Pos terkait