Jakarta,(DOC) – Gelombang unjuk rasa yang berujung ricuh di berbagai kota Indonesia sejak 28–30 Agustus 2025 tidak hanya menimbulkan kerugian material dan korban jiwa. Gejolak tersebut juga mengguncang pasar keuangan, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada penutupan akhir pekan, IHSG tercatat berada di level 7.830,493. Angka ini melemah 0,36 persen di banding posisi pekan sebelumnya di 7.858,851. Padahal sehari sebelumnya, Kamis (28/8/2025), IHSG sempat menorehkan rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah di level 7.952,088. Pencapaian tersebut bahkan melampaui rekor sebelumnya di 7.943,825 pada 20 Agustus.
Menurut Gigih Pringgondani, Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) kerusuhan yang di picu kematian seorang pengendara ojek online di Jakarta telah menimbulkan shock negatif bagi pasar.
“Pasti. Negatif. Tapi itu bentuknya shock, jadi sementara. Kembali lagi tergantung bagaimana kecepatan pemerintah untuk mengatasi situasi yang memanas ini,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa citra Indonesia di mata dunia kini sangat bergantung pada kecepatan pemerintah meredam situasi.
“Kalau berlarut, kerusuhan ini bakal menekan ekonomi juga. Akhirnya kan arahan Pak Prabowo jadi kunci untuk menyelesaikan agar tidak segera berlarut-larut,” tambahnya.
Gigih juga menyebut sektor yang paling rentan terdampak adalah transportasi dan perjalanan. Meski demikian, ia menepis anggapan bahwa ekonomi akan jatuh secara masif jika kerusuhan berlangsung seminggu penuh.
“Saya pikir gak sampai segitunya. Kita lihat seberapa cepat pemerintah bisa meredam,” ujarnya.
Area Support IHSG
Sementara itu, Founder Stocknow.id Hendra Wardana, menilai IHSG kini mendekati area support penting di kisaran 7.800–7.840.
“Jika level ini berhasil bertahan, ada peluang IHSG kembali konsolidasi. Namun bila jebol, risiko koreksi lebih dalam bisa terbuka,” kata Hendra, Minggu (31/8/2025).
Hendra menambahkan bahwa pelemahan pasar didorong oleh sentimen negatif akibat aksi massa di Jakarta dan sejumlah daerah. Ia mengingatkan bahwa pasar modal sangat sensitif terhadap stabilitas politik maupun keamanan.
“Ketika ada potensi risiko, investor baik asing maupun domestik cenderung menahan diri atau bahkan melepaskan portofolio untuk mengamankan posisi,” jelasnya.
Selain itu, ia menyoroti respons pemerintah yang di nilai belum tepat, seperti himbauan work from home (WFH) bagi anggota DPR. Menurutnya, kebijakan tersebut menimbulkan persepsi negatif di mata publik maupun pasar.
“Persepsi sering kali lebih kuat pengaruhnya dibanding fakta di lapangan,” ujarnya.
Kerusuhan yang meluas juga menjadi sorotan media internasional. Investor global menilai ada eskalasi ketidakpastian politik di Indonesia. Kondisi ini akhirnya memicu aksi jual di pasar keuangan, menekan IHSG, dan memicu fluktuasi nilai tukar rupiah. (r6)





