DPR dan Warga Tagih Janji Pabrik Emas di Surabaya

DPR dan Warga Tagih Janji Pabrik Emas di Surabaya

Surabaya,(DOC) – Anggota DPR RI Komisi VIII Bambang Haryo Soekartono (BHS) menegaskan bahwa operasional PT Suka Jadi Logam di kawasan Benowo, Surabaya, harus segera di hentikan. Ia menilai aktivitas pabrik peleburan emas tersebut terlalu berisiko dan sudah menimbulkan keresahan panjang di tengah warga.

Bacaan Lainnya

“Kalau masyarakat sudah meminta di tutup, ya harus di tutup. Tidak ada alasan lain. Perusahaan ini sudah berdiri tujuh tahun, dan baru sekarang ledakan masalahnya muncul. Sangat di sayangkan,” tegas BHS saat melakukan sidak, Senin (15/9/2025).

Menurutnya, peleburan emas bukan sekadar soal izin usaha, tapi menyangkut langsung keselamatan lingkungan dan kesehatan warga. Limbah beracun seperti merkuri dan natrium sianida bisa mencemari air dan tanah, bahkan berdampak fatal.

“Racun seperti itu bisa membunuh secara perlahan. Ini bukan hal sepele. Lingkungan tercemar, masyarakat sekitar bisa kehilangan nyawa,” tegasnya.

BHS menyatakan siap melaporkan kasus ini ke Menteri Lingkungan Hidup jika pemerintah daerah tidak segera menindak tegas.

“Kalau penutupan tidak kunjung di lakukan, saya akan kirim laporan ke Kementerian. Kasus seperti ini jangan sampai terjadi di daerah lain,” katanya.

Di sisi lain, warga Tengger Benowo menyambut baik langkah DPR RI dan Pemkot Surabaya yang mulai merespons keluhan mereka. Namun, mereka tak mau berlarut-larut menunggu. Salah satu perwakilan warga, Ibnu, mengatakan masyarakat memberi waktu hanya 2×24 jam.

“Kalau Rabu tidak ada keputusan tegas saat rapat final, warga siap turun langsung. Kami sudah terlalu lama menghirup bau dari aktivitas pabrik ini,” ujarnya.

Ibnu juga menyebut pihak perusahaan sempat menyatakan kesediaan untuk menutup operasional. Namun, warga butuh keputusan resmi dan tertulis, bukan sekadar janji.

“Kalau di tutup sesuai kesepakatan, warga juga tenang. Tapi kalau tidak ada kejelasan, jangan salahkan kami kalau bertindak,” tegasnya. (r6)

Pos terkait