ODGJ dari Kalangan Gen Z Meningkat, Tekanan Hidup hingga Bullying Jadi Pemicu

ODGJ dari Kalangan Gen Z Meningkat, Tekanan Hidup hingga Bullying Jadi Pemicu

Surabaya,(DOC) – Fenomena meningkatnya Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dari kalangan generasi muda atau Gen Z menjadi perhatian serius. Tekanan hidup, putus sekolah atau kuliah, masalah pekerjaan, hingga maraknya bullying disebut sebagai faktor utama yang memicu gangguan mental.

Bacaan Lainnya

Anggota Komisi C DPRD Jawa Timur, Fuad Benardi, mengungkapkan bahwa saat ini banyak kasus gangguan mental dialami generasi muda akibat tekanan sosial yang semakin kompleks. Bahkan, kecanduan judi online (judol) turut memperparah kondisi psikologis.

“Sekarang yang banyak terjadi karena bullying. Mulai dari tingkat SD hingga lingkungan kerja. Pelakunya pun seringkali justru teman dekat atau sahabat sendiri,” ujar Fuad.

Ia menegaskan, persoalan ini tidak hanya terjadi di Surabaya, tetapi juga di berbagai kota besar lainnya di Indonesia. Fenomena ini menjadi alarm serius karena berdampak langsung pada masa depan generasi muda.

Menurutnya, kondisi di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya menunjukkan tingginya angka pasien. Bahkan, antrean terus terjadi dan tempat tidur yang kosong langsung terisi oleh pasien baru.

“Kalau sudah ada yang pulang, bed-nya langsung terisi lagi. Ini menunjukkan masalahnya cukup serius,” katanya.

Fuad mengingatkan, jika persoalan kesehatan mental ini tidak segera ditangani, akan berdampak besar terhadap masa depan anak-anak muda.

“Jangan sampai semakin besar. Kalau mentalnya yang rusak, masa depan mereka tidak bisa diharapkan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mendeteksi kondisi mental anak. Menurutnya, banyak orang tua yang belum menyadari kondisi psikologis anak secara menyeluruh.

“Orang tua sering merasa anak sudah di rumah jam 8 malam itu aman. Padahal belum tentu. Harus dicek kondisi mentalnya, minimal seminggu sekali,” ujarnya.

Fuad menambahkan, korban bullying cenderung tidak akan terbuka jika tidak diajak bicara secara langsung oleh orang tua.

Baca Juga:  Surabaya Berlakukan PPKM Level 2, Berikut Ketentuannya

“Anak korban bullying tidak akan cerita kalau tidak ditanya. Bahkan penyembuhannya bukan cuma 10 tahun, bisa bertahun-tahun,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa penanganan persoalan ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif dari keluarga.

“Ini tugas pemerintah, tapi akan sia-sia kalau orang tua tidak membantu,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan Fuad Benardi saat kegiatan sosialisasi daya saing industri Kota Surabaya dalam memasuki gerbang perdagangan bebas yang digelar di Hotel Artotel. (r6)

Pos terkait