Lumajang,(DOC) – Sebanyak 21 siswa kelas 6 SDN Supiturang 2, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) berbasis komputer secara bergantian, Kamis (23/4/2026).
Mereka menjalani ujian di tengah keterbatasan, setelah bangunan sekolah hancur akibat erupsi Gunung Semeru pada 2025 lalu.
Kini, kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke Madrasah Diniyah Takmiliyah Ula Raudlatul Ulum di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang. Sebanyak 70 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 masih menumpang belajar di lokasi tersebut.
Guru SDN Supiturang 2, Hariono, mengatakan sekolah menghadapi banyak kendala, terutama saat menggelar ujian berbasis komputer.
“Perangkat kami hilang saat erupsi tahun lalu. Jadi untuk TKA ini kami serba terbatas,” ujar Hariono.
Dari total 21 peserta, terdiri dari 17 siswa perempuan dan 4 siswa laki-laki. Karena minim perangkat, sekolah membagi ujian menjadi empat gelombang dalam dua sesi.
“Kami hanya punya beberapa komputer dan laptop, jadi pelaksanaannya harus bergantian,” jelasnya.
Selain keterbatasan alat, jaringan internet di wilayah tersebut juga menjadi kendala. Sekolah tidak berani menggabungkan seluruh peserta dalam satu sesi.
“Kalau dipaksakan banyak peserta dalam satu sesi, kami khawatir jaringan tidak kuat,” tambahnya.
Saat ini, sekolah hanya memiliki empat perangkat. Tiga unit digunakan siswa, sementara satu unit dipakai sebagai komputer proktor.
Perangkat tersebut berasal dari bantuan pemerintah, pinjaman guru, dan swadaya sekolah. Sebelumnya, seluruh inventaris sekolah hilang terbawa material erupsi Semeru pada 19 November 2025.
“Total ada empat perangkat. Tiga untuk siswa, satu untuk proktor. Itu pun hasil bantuan dan pinjaman,” ungkapnya.
Meski serba terbatas, para siswa tetap menunjukkan semangat mengikuti ujian. Guru terus memberikan motivasi agar mereka tidak menyerah pada kondisi.
“Kami tekankan ke anak-anak, meski berada di daerah bencana, mereka tetap harus semangat belajar seperti siswa lain,” kata Hariono.
Sebelum ujian, siswa juga telah menjalani latihan, baik materi maupun penggunaan komputer.
“Alhamdulillah mereka sudah siap. Walau terbatas, semangat mereka luar biasa,” pungkasnya.(r7)





