Surabaya,(DOC) – Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Surabaya, Siti Maryam, memberikan klarifikasi tegas terkait isu miring yang menerpa organisasinya. Dirinya membantah keras adanya dugaan pungutan liar (pungli) dalam program Pramuka Garuda maupun rencana pemecahan rekor MURI yang akan digelar pada 6 Juni mendatang.
Dalam keterangannya, Maryam memastikan bahwa baik Kwarcab, sekolah, maupun Dinas Pendidikan (Dispendik) tidak menarik pungutan sepeser pun kepada peserta didik untuk kegiatan kepramukaan. Terkait atribut seperti Tanda Kecakapan Khusus (TKK) dan Syarat Kecakapan Umum (SKU), ia mengimbau orang tua untuk membeli sendiri secara mandiri.
“Pramuka itu tidak ada pungutan sama sekali. Kalau atribut, orang tua silakan beli sendiri, sekarang sudah zaman online atau bisa ke Pasar Turi. Pembina juga sudah saya instruksikan jangan menerima apa pun, bahkan bingkisan makanan pun jangan,” tegas Maryam, Kamis (23/6/2026).
Ia menambahkan bahwa proses menuju Pramuka Garuda adalah hak anak didik yang harus difasilitasi tanpa beban biaya tambahan. “Jangan sampai ada tarikan Rp1.000 atau Rp2.000 dari murid hanya untuk menjamu pelatih. Saya pastikan itu tidak ada,” imbuhnya.
Menanggapi isu bahwa pungutan tersebut digunakan untuk membiayai pemecahan rekor MURI, Maryam memberikan jawaban mengejutkan. Ia menekankan, bahwa biaya untuk keperluan MURI tersebut berasal dari dana pribadinya sebagai bentuk pengabdian.
“Untuk MURI ini pakai uang saya pribadi. Ini adalah bentuk Amar Ma’ruf saya di usia 64 tahun. Saya ingin memberikan kenang-kenangan dan membentengi generasi muda Surabaya melalui inovasi di Pramuka,” ungkapnya.
Terkait operasional kegiatan besar lainnya seperti Jambore Cabang atau Lomba Tingkat (LT), Maryam menjelaskan, bahwa pendanaan berasal dari mekanisme yang legal dan transparan melalui proposal ke Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) maupun Dispendik Kota Surabaya.
“Kami mengajukan proposal resmi. Ada tim monitoring dan evaluasi (monev), ada foto kegiatan, hingga laporan pertanggungjawaban karena menggunakan uang negara. Jadi tidak ada alasan untuk menarik uang dari siswa,” jelasnya.
Rencana pemecahan rekor MURI pada 6 Juni mendatang rencananya akan melibatkan sekitar 65.000 peserta sesuai dengan HUT Pramuka ke-65. Kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat kepramukaan agar tidak sekadar menjadi “seragam wajib” di sekolah.
“Pramuka harus inovatif. Kalau kita diam, idealisme Pramuka akan hilang tergerus zaman. Kita ingin membentengi anak-anak dari pengaruh buruk seperti narkoba dan pergaulan bebas. Inovasi ini dilakukan untuk menjaga marwah Surabaya,” tuturnya.
Maryam menyayangkan adanya pihak-pihak yang menyebarkan isu negatif tanpa melakukan konfirmasi langsung kepadanya. Dirinyaberharap para anggota Pramuka tetap berpegang teguh pada Dasadharma, yakni jujur dalam perkataan dan perbuatan.
“Kalau dia Pramuka sejati, seharusnya kulo nuwun (permisi), tanya langsung bagaimana modelnya, bukan langsung memfitnah. Saya hanya berdoa semoga mereka diberi hidayah dan kembali ke jalan yang benar,” pungkasnya.(r7)





