Aktivitas Semeru Meningkat, BPBD Lumajang Pasang 12 CCTV dan EWS di Jalur Rawan Bencana

Aktivitas Semeru Meningkat, BPBD Lumajang Pasang 12 CCTV dan EWS di Jalur Rawan BencanaLumajang,(DOC)Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang memperkuat mitigasi bencana seiring meningkatnya aktivitas Gunung Semeru yang masih berstatus Level III atau Siaga.

Untuk meningkatkan kewaspadaan, BPBD memasang 12 kamera pengawas (CCTV) dan empat unit Early Warning System (EWS) di sejumlah titik strategis. Perangkat tersebut memantau jalur aliran lahar dan kawasan yang berpotensi terdampak aktivitas vulkanik.

Bacaan Lainnya

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, mengatakan pihaknya memanfaatkan seluruh perangkat tersebut untuk memantau kondisi Semeru secara real time dan mempercepat penyebaran informasi kepada masyarakat.

“Untuk mitigasi aktivitas Semeru, saat ini kami sudah memasang 12 CCTV pemantau di sejumlah titik strategis yang berada di jalur aliran lahar maupun kawasan yang berpotensi terdampak aktivitas vulkanik,” kata Isnugroho.

BPBD menempatkan CCTV di sejumlah lokasi penting, antara lain Batu Padat, Piket Nol, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Watu Kobong, Pos Curah Kobokan, Supiturang, Antrukan, Curah Kobokan, Simbar, serta Daerah Aliran Sungai (DAS) Kobokan.

Empat EWS dan Sirene Perkuat Sistem Peringatan

Selain CCTV, BPBD memasang empat unit EWS di Batu Padat, Desa Supiturang, Pos Curah Kobokan, dan Antrukan. Alat tersebut membantu petugas mendeteksi potensi bencana lebih cepat sehingga langkah penanganan dapat segera dilakukan.

BPBD juga mengoperasikan empat titik sirene yang terhubung langsung dengan sistem peringatan dini. Sirene tersebut berfungsi memberikan informasi kepada warga saat terjadi kondisi darurat.

Isnugroho mengimbau masyarakat memahami arti setiap bunyi sirene.

“Kalau sirene berbunyi putus-putus, artinya masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan atau berada dalam kondisi siaga. Namun jika sirene berbunyi panjang dan terus-menerus, warga harus segera melakukan evakuasi ke tempat yang aman,” jelasnya.

BPBD Ajukan Tambahan Alat Mitigasi

Untuk memperkuat kesiapsiagaan, BPBD Lumajang mengajukan tambahan peralatan mitigasi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Salah satu usulan tersebut berupa sistem peringatan dini potensi tsunami.

Baca Juga:  Ini Penjelasan Bupati Soal PDP Asal Lumajang Meninggal di RSSA Malang

Hingga kini, BPBD masih menunggu respons dari pemerintah pusat terkait permohonan tersebut.

“Kami berharap BNPB bisa menjadikan Semeru sebagai prioritas utama dalam rangka mencegah terjadinya korban jiwa,” tegas Isnugroho.

Warga Diminta Patuhi Rekomendasi PVMBG

BPBD mengingatkan masyarakat agar mematuhi rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Saat ini warga tidak boleh beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak Semeru. Selain itu, masyarakat juga harus menghindari aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah.

BPBD juga meminta warga yang tinggal di sekitar aliran sungai menjauhi area sempadan sungai sejauh 500 meter. Langkah ini penting untuk mengantisipasi ancaman awan panas guguran maupun banjir lahar.

Isnugroho mengungkapkan, pada Jumat lalu Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran dengan jarak luncur sekitar 2,5 kilometer. Meski belum muncul awan panas susulan, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan.

“Kami tetap siaga karena alat pemantauan mencatat aktivitas tremor harmonik beberapa kali dalam 12 jam terakhir. Kondisi ini terus kami pantau bersama perkembangan aktivitas Semeru,” pungkasnya. (r7)

Pos terkait