Komitmen Putus Rantai Penularan, Pemeriksaan Suspek TBC di Surabaya Tembus 71 Persen

Komitmen Putus Rantai Penularan, Pemeriksaan Suspek TBC di Surabaya Tembus 71 Persen
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh. (Foto: Dinkominfo)


Surabaya, (DOC)Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menunjukkan komitmennya dalam mencegah dan menekan angka Tuberkulosis (TBC). Upaya ini, dilakukan melalui strategi tracing dan screening yang masif di berbagai wilayah, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya mencatat capaian luar biasa.

Hingga Mei 2026, pemeriksaan terhadap suspek atau terduga TBC di Kota Pahlawan telah sukses mencapai 71,54 persen.

Bacaan Lainnya

Capaian nyata ini melampaui setengah dari target yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, sekaligus memperkuat langkah Surabaya dalam mendukung target nasional eliminasi TBC pada tahun 2030.

Kepala Dinkes Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari fokus Pemkot yang secara rutin menyasar lima area prioritas setiap pekannya.

“Kami bergerak setiap minggu untuk tracing dan screening. Tracing kami lakukan ketat pada kontak erat pasien, sedangkan screening menyasar masyarakat umum yang tidak bergejala maupun yang tidak punya riwayat kontak,” ujar dr. Billy, Kamis (11/6/2026).

Komitmen Pemkot Surabaya dalam mendeteksi dan mengobati pasien TBC terlihat jelas dalam data performa layanan kesehatan, yaitu pemeriksaan suspek TBC sebanyak 61.624 orang dengan skrining 50 persen populasi penduduk.

Dari estimasi 11.412 kasus TBC pada 2026, sebanyak 4.191 kasus berhasil ditemukan, terdiri atas 4.078 kasus TBC sensitif obat (SO) dan 113 kasus TBC resistan obat (RO). Saat ini, sebanyak 4.166 pasien TBC tengah menjalani pengobatan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Surabaya.

Tidak sekadar menemukan kasus, Pemkot Surabaya juga memastikan manajemen pengobatan berjalan efektif. Angka keberhasilan pengobatan atau Treatment Success Rate (TSR) untuk TBC Sensitif Obat di Surabaya kini menyentuh angka 89,36 persen, dengan angka kematian pasien yang ditekan hingga serendah 1,80 persen.

Sebagai langkah preventif tambahan, Dinkes Surabaya telah melakukan 2.461 investigasi kontak dan memberikan Terapi Pencegahan TBC (TPT) kepada 2.729 orang yang tinggal serumah dengan pasien untuk memutus radar penularan sejak dini.

Baca Juga:  Pameran Modern Art and Exhibtion (MADE.01), Telah Resmi Dibuka

Salah satu terobosan mutakhir yang dilakukan Dinkes Surabaya adalah memodifikasi metode pengambilan sampel. Bertempat di Puskesmas Sawah Pulo, Kelurahan Ujung, Kecamatan Semampir, Dinkes berkolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), dokter spesialis paru, serta residen paru.

Menariknya, aksi ini didukung langsung oleh inovasi teknologi yang dikembangkan bersama tim ahli internasional dari Cina dan Korea.

“Selama ini tantangan terbesar lapangan adalah kesulitan pasien mengeluarkan dahak. Sekarang, kami memanfaatkan alat pemeriksaan baru yang lebih mudah dan nyaman, cukup menggunakan saliva atau air liur, kita sudah bisa mendeteksi TBC,” jelas dr. Billy terperinci.

Begitu hasil diagnosis keluar, Pemkot Surabaya langsung mendistribusikan paket terapi yang sudah tersedia lengkap di seluruh Puskesmas secara gratis.

Mengingat durasi pengobatan TBC yang panjang kerap memicu kejenuhan, Dinkes mengerahkan Kader Surabaya Hebat (KSH) bersama petugas puskesmas untuk melakukan pengawasan melekat.

Mereka bertugas mengetuk pintu rumah warga guna memastikan ketaatan konsumsi obat. “Terapinya memang banyak dan lama, itu yang sering bikin pasien lelah. Di sinilah peran KSH dan tim puskesmas untuk terus memotivasi mereka agar tetap semangat dan tidak putus obat di tengah jalan,” tandasnya.

Langkah progresif Surabaya ini optimistis mampu memenuhi amanat Perpres Nomor 67 Tahun 2021, demi menurunkan angka kejadian TBC hingga 65 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2030 mendatang.

Pos terkait