
Surabaya, (DOC) – Pendidikan vokasi di Jawa Timur mulai menggeser arah pembinaannya untuk menembus pasar kerja internasional. Melalui program SMK Go Global, calon pekerja migran indonesia (PMI) lulusan SMK kini tidak lagi disiapkannya sekadar sebagai tenaga kerja nonformal, melainkan difokuskan pada jabatan spesifik berbasis kompetensi dan sertifikasi resmi.
Arah baru ini dibahas dalam kegiatan Sosialisasi dan Pemetaan Kompetensi SMK Go Global Jawa Timur 2026 bertema “Sinergi Ekosistem Vokasi Pekerja Migran Indonesia, Wujudkan SDM Unggul Kelas Dunia” di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Kamis (13/8/2026). Acara ini digagas atas kolaborasi Kadin Jawa Timur, Kadin Institute, dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dengan melibatkan SMK, LPK, LKP, LSP, hingga asosiasi vokasi.
Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, menegaskan bahwa perubahan tren global menuntut pergeseran paradigma, dari sekadar pengiriman tenaga kerja menjadi pengisian jabatan profesional yang terukur.
“Sekarang sudah mengarah kepada jabatan spesifik seperti housekeeper, caretaker, babysitter, hingga family cook, bukan lagi sebatas penata laksana rumah tangga tanpa kualifikasi. Tugas kita adalah memetakan kompetensi pekerja agar matching dengan kriteria negara penempatan,” ujar Nurul.
Ia menyebutkan peluang besar menanti lulusan SMK Jatim di berbagai negara, seperti kebutuhan caregiver di Jepang, industri hospitality dan juru masak di Jerman, hingga sektor manufaktur dan pertanian di Jerman, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Australia, dan Turki. Untuk menangkap peluang tersebut, calon lulusan wajib mengantongi tiga modal utama: skill (keterampilan teknis), knowledge (pengetahuan), dan attitude (pengembangan karakter serta kemampuan bahasa asing).
Senada dengan hal itu, Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menyoroti pentingnya legalitas dan sertifikasi kompetensi untuk meminimalkan risiko masalah hukum maupun culture shockdi negara tujuan.
“Yang penting sekarang tenaga kerja harus legal, terdaftar di Dinas Tenaga Kerja, dan melalui jalur resmi. Calon pekerja wajib memiliki sertifikasi kompetensi dan pemahaman budaya. Jika tidak dibekali keterampilan dan ilmu yang memadai, mereka bisa mengalami culture shock, gagal beradaptasi, bahkan dipulangkan,” tegas Adik.
Sementara itu, Direktur Pembinaan Kelembagaan Vokasi Pekerja Migran Indonesia KP2MI, Abri Danar Prabawa, menyampaikan bahwa keberhasilan program SMK Go Global memerlukan ekosistem yang solid dan terintegrasi antara pemerintah, sekolah, lembaga sertifikasi, dan dunia usaha.
“Jawa Timur punya modalitas dan potensi talenta yang luar biasa. Namun, kompetensi spesifik dan penguasaan bahasa asing harus terus ditingkatkan. Lewat pemetaan ini, kita atur data minat dan kemampuan siswa agar pelatihan yang diberikan tepat sasaran,” kata Abri.
Melalui penataan ekosistem dan penguatan legalitas ini, lulusan SMK di Jawa Timur diharapkan tidak hanya siap terserap di dalam negeri, tetapi juga mampu berdiri sejajar sebagai tenaga kerja profesional berdaya saing tinggi di panggung global.





