
Surabaya, (DOC) – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur bersama Kadin Institute dan Plan International menggelar pelatihan keterampilan pelayanan prima (service excellence) untuk memperluas akses pekerjaan bagi penyandang disabilitas. Pelatihan yang berlangsung pada 3–6 Agustus di Kadin Institute Surabaya ini diikuti sekitar 280 peserta, di mana 20 di antaranya merupakan penyandang disabilitas netra.
Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, menjelaskan bahwa para peserta dibekali berbagai kompetensi dasar, mulai dari digital marketing, service excellence, administrasi retail, hingga literasi finansial. Berdasarkan evaluasi pelatihan, peserta disabilitas netra menunjukkan potensi komunikasi yang sangat kuat.
“Selama empat hari dilatih, anak-anak bisa menyerap materi dengan baik. Kelebihannya ada pada cara bicara dan komunikasinya yang cukup bagus. Karena itu, dalam waktu dekat kami siapkan pendalaman materi public speaking selama dua hari untuk makin memperkuat kepercayaan diri mereka,” ujar Nurul, Selasa (11/8/2026).
Sebagai langkah konkret penyaluran kerja, Kadin Institute telah menjajaki kerja sama dengan Persatuan Radio di Surabaya untuk memberikan kesempatan pemagangan bagi 20 peserta disabilitas netra tersebut di sejumlah stasiun radio lokal.
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menegaskan komitmennya agar para penyandang disabilitas mendapat kesempatan serta fasilitas kerja yang setara dan sesuai dengan kompetensi masing-masing. Kadin Institute juga menggandeng LSP Public Relations Nusantara untuk memfasilitasi proses uji kompetensi dan sertifikasi peserta.
“Harapannya, anak-anak berkebutuhan khusus ini bisa diterima oleh industri dan terserap kerja seperti masyarakat lainnya, tentunya dengan dukungan sertifikasi yang disesuaikan kebutuhan asesi,” kata Adik.
Manfaat pelatihan tersebut dirasakan langsung oleh peserta. Fadlakal Jamal Aswar (29), anggota Komunitas Mata Hati asal Surabaya, menyebut materi service excellence memberikan wawasan akademik dan praktis, terutama dalam membangun komunikasi positif serta mengatasi tantangan interaksi non-visual.
“Senyum dan komunikasi yang baik adalah fondasi pelayanan. Pelatihan ini menambah kapabilitas kami agar tidak sekadar menjadi penerima bantuan, tetapi bisa berkontribusi aktif di masyarakat,” tutur Jamal.
Kadin Institute memastikan program pengembangan kompetensi dan inklusi kerja bagi penyandang disabilitas ini akan berlanjut secara berkala pada gelombang berikutnya setelah bulan Oktober.





