Ringankan Beban Lansia, Mahasiswa ITS Hadirkan Teknologi Otomatisasi Hidroponik Berbasis Surya

Ringankan Beban Lansia, Mahasiswa ITS Hadirkan Teknologi Otomatisasi Hidroponik Berbasis Surya
Teknologi mahasiswa ITS yang ringankan beban lansia rawat hidroponik. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC) – Mengelola kebun hidroponik kini tak lagi menyita waktu dan menguras daya listrik bagi warga Kampung Hidroponik di RW 12, Kelurahan Medokan Ayu, Surabaya.

Lewat inovasi teknologi dari mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), operasional kebun pertanian perkotaan (urban farming) di wilayah tersebut resmi beralih ke sistem otomatis berbasis energi surya.

Bacaan Lainnya

Inovasi ini dihadirkan oleh mahasiswa Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FT-EIC) ITS bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FT-EIC melalui program Rumah Pengabdian 2.

Mereka mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 1.100 Watt-peak (Wp) dengan sistem pemantauan kondisi air berbasis Internet of Things (IoT).

Ketua Pelaksana Rumah Pengabdian 2, Nayara Aldevida, menjelaskan bahwa program ini menggabungkan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT), energi surya hibrida, dan pemantauan pintar secara real-time. Kapasitas PLTS kali ini dilipatgandakan dari tahun sebelumnya yang hanya berukuran 550 Wp.

“Dengan tambahan dua unit panel surya berkapasitas total 1.100 Wp ini, kebutuhan listrik operasional hidroponik dapat dipenuhi secara optimal dari energi matahari,” ujar Nayara, Senin (12/10/2026).

Tak hanya efisiensi energi, intervensi teknologi ini juga memodernisasi cara warga merawat tanaman.

Lewat perangkat IoT yang dipasang, warga kini tak perlu lagi repot melakukan pengecekan kualitas air secara manual setiap pagi dan sore hari.

Wakil Ketua Pelaksana, Riyannizaar Dwi Amarullah, menuturkan bahwa perangkat IoT tersebut dapat mengukur tingkat keasaman (pH) dan kadar nutrisi air termasuk Total Dissolved Solids (TDS) secara otomatis.

Datanya langsung ditampilkan secara akurat di layar monitor. “Tujuannya untuk mempermudah ibu-ibu dan pengelola kebun memantau pH serta nutrisi air secara real-time. Informasi langsung terlihat di layar, tanpa perlu pengecekan manual yang memakan waktu,” jelas Riyannizaar.

Dampak positif dari integrasi teknologi ini dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Sekretaris Kampung Hidroponik Surabaya, Tianawati, mengungkapkan keberadaan PLTS dan sensor otomatis sangat menekan biaya operasional harian dan mereduksi tagihan listrik dari jaringan PLN.

Baca Juga:  Surabaya Tancap Gas Kurangi Emisi Gedung Lewat Proyek SETI

“Alhamdulillah, sangat meringankan beban listrik PLN untuk mesin hidroponik. Tahun lalu dayanya belum cukup untuk mendukung kulkas penyiapan dan pompa air (Sanyo). Sekarang daya sudah bertambah dan ada pengukur TDS otomatis, jadi warga terutama yang sudah lanjut usia tidak terlalu lelah harus cek manual lagi,” ungkap Tianawati penuh syukur.

Inisiatif terpadu dari mahasiswa ITS ini tak hanya menjawab tantangan efisiensi tenaga dan biaya di tingkat warga, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat mampu mendorong kemandirian pangan perkotaan berbasis teknologi ramah lingkungan.

Pos terkait