
Surabaya, (DOC) – Kasus influenza A dilaporkan makin marak di tengah masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Menanggapi lonjakan tersebut, pakar kesehatan mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan mengonsumsi obat, terutama antibiotik.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dr. Edwin Nugroho Njoto, Sp.PD., menegaskan bahwa antibiotik bukanlah obat untuk mengatasi influenza. Sebab, penyakit tersebut disebabkan oleh infeksi virus, bukan bakteri.
“Jangan baru flu sebentar langsung diberi obat antibiotik. Penyebab influenza itu virus, bukan bakteri,” kata dokter spesialis penyakit dalam tersebut, Sabtu (3/10/2026).
Ia menjelaskan, penggunaan antibiotik baru boleh dipertimbangkan jika pasien mengalami infeksi bakteri sekunder berdasarkan diagnosis medis. Penyalahgunaan antibiotik tanpa resep dokter justru berisiko memicu resistensi obat di kemudian hari.
Peningkatan kasus influenza A ini juga dirasakan dr. Edwin di tempat praktiknya di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya dan Eagles Head Medical Centre. Ia menyebut virus influenza A sangat mudah bermutasi, cepat menular melalui percikan air liur (droplet), dan berpotensi memicu wabah musiman yang diperparah faktor cuaca.
Gejala awal influenza A biasanya berupa pilek, batuk, demam, dan nyeri menelan. Namun, masyarakat diminta segera waspada jika timbul gejala susulan yang lebih berat. “Yang perlu diwaspadai adalah ketika terjadi penurunan nafsu makan hingga sesak napas,” ujar Edwin.
Ia memberi perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti diabetes (kencing manis) dan gagal ginjal. Pada kelompok ini, influenza A berisiko menimbulkan komplikasi medis yang serius.
Untuk mempercepat pemulihan sekaligus mencegah penularan, dr. Edwin membagikan beberapa panduan penting bagi masyarakat. Pertama, cukupi waktu tidur, perbanyak minum air putih, konsumsi makanan bergizi, dan tetap berolahraga.
“Kedua, pakai masker saat bergejala demam atau batuk, rutin mencuci tangan, serta terapkan etika batuk/bersin. Kemudian, lakukan vaksinasi influenza secara rutin setiap satu tahun sekali sebagai perlindungan ekstra, terutama bagi kelompok berisiko tinggi,” terangnya.
Edukasi penanganan kesehatan ini sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yaitu mewujudkan Kehidupan Sehat dan Sejahtera bagi masyarakat.





