
Surabaya, (DOC) – Siapa sangka rempah dapur yang biasa digunakan untuk bumbu masakan bisa disulap menjadi obat penyembuh luka. Di tangan lima siswa SMP Islam Al-Azhar 13 Surabaya, biji kelabet (fenugreek) berhasil diolah menjadi produk perawatan luka ringan inovatif bernama Venom Patch.
Inovasi unik ini digagas oleh tim FASA FIX Smart yang beranggotakan Felio Altaf Prajatara, Daekenzie Ar Rayyan Adityawarman, Muhammad Farzana Admawidya, Zivara Rahmalika Alyadeena Maricar Sahib, dan Kania Olivia Daniandra untuk dilagakan dalam ajang Japan Science Fair (JSF).
Muhammad Farzana Admawidya mengungkapkan, ide ini berawal dari keberadaan biji kelabet yang kaya akan senyawa flavonoid dengan potensi antioksidan serta antiinflamasi tinggi.
Agar lebih praktis dan mudah meresap di kulit, mereka mengemasnya dalam bentuk gel.
“Masyarakat mengenal biji kelabet hanya untuk masakan. Kami mencoba melangkah lebih jauh dengan memanfaatkannya sebagai produk perawatan luka sekaligus pelindung dari bakteri. Bentuknya sengaja kami ubah menjadi gel agar lebih fleksibel saat diaplikasikan ke kulit,” ujar Farzana, Selasa (13/10/2026).
Efektivitas gel biji kelabet ini sempat diuji coba secara mandiri pada salah satu rekan mereka yang mengalami luka lecet akibat jatuh dari sepeda motor.
“Setelah rutin dioleskan selama sekitar satu minggu, terlihat perkembangan pemulihan luka yang cukup signifikan. Pengalaman ini makin memotivasi kami untuk mengembangkannya agar benar-benar bisa membantu masyarakat,” timpal Felio Altaf Prajatara.
Meski menunjukkan hasil awal yang positif, tim menyadari bahwa Venom Patch masih membutuhkan serangkaian pengujian medis terkontrol, penyempurnaan formulasi, serta uji keamanan ilmiah sebelum disebarluaskan.
Anggota tim lainnya, Zivara Rahmalika Alyadeena Maricar Sahib, menegaskan bahwa karya ini dirancang bukan sekadar untuk mengejar kebanggaan di ajang perlombaan.
“Kami ingin produk ini nantinya bisa diakses oleh semua orang sebagai solusi praktis dan terjangkau dalam menangani luka ringan,” harap Zivara.
Kreativitas lima pelajar Surabaya ini menjadi bukti nyata bahwa bahan alami di sekitar kita menyimpan potensi besar jika dipadukan dengan riset dan pemikiran kritis.
Dengan pendampingan ilmiah yang tepat, gagasan kreatif dari bangku sekolah ini berpeluang besar menjadi produk kesehatan herbal yang siap bersaing di masa depan.


