
Lumajang, (DOC) – Berawal dari keresahan terhadap kebiasaan merokok di kalangan pelajar mengantarkan tiga siswa SMAN 1 Lumajang meraih prestasi internasional.
Mereka menciptakan inovasi permen herbal yang ditujukan sebagai alternatif untuk membantu mengurangi ketergantungan nikotin pada rokok.
Ketiga pelajar tersebut adalah Dhiva Novia Putri Andini, Sadewa Aryawibawa dan Widda Rizki Baari’ah. Siswa kelas X itu berhasil meraih Silver Medal sekaligus Favorite Poster dalam ajang 3rd International Student Summit (ISS) di Universiti Putra Malaysia (UPM), Serdang, Selangor, Malaysia.
Karya mereka masuk dalam kategori HealthCandy yang digelar Sentosa Foundation bersama pihak kampus di Malaysia. Presentasi mengenai inovasi permen herbal tersebut menjadi salah satu penilaian yang mengantarkan tim SMAN 1 Lumajang meraih penghargaan.
Perwakilan kelompok. Dhiva Novia Putri Andini mengatakan bahwa gagasan penelitian berangkat dari kondisi di lingkungan sekitar. Dia melihat masih banyak masyarakat yang merokok, termasuk kalangan pelajar.
Menurutnya, sebagian perokok mengalami kesulitan untuk berhenti karena telah mengalami ketergantungan terhadap nikotin. Dari persoalan tersebut, dia bersama dua rekannya mencoba mencari alternatif melalui produk permen berbahan herbal.
“Di lingkungan sekolah juga banyak teman-teman yang merokok. Tentunya kami mencoba mengurangi hal tersebut dengan membuat inovasi berupa permen,” kata Dhiva, Sabtu (3/10/2026).
Dhiva menjelaskan, permen tersebut dirancang menggunakan bahan herbal seperti daun kemangi, kayu manis dan daun mint. Bahan-bahan tersebut diekstrak kemudian diolah menjadi permen dengan tambahan gelatin dan gula rendah kalori.
Dia menyebut penggunaan gula rendah kalori dipilih karena permen biasa yang kerap dikonsumsi sebagai pengalih keinginan merokok memiliki kandungan gula yang relatif tinggi.
“Jadi kami buat permen herbal yang diekstrak dari daun kemangi, kayu manis serta gula rendah kalori sehingga tidak membuat glukosa darah naik,” jelasnya.
Dalam proses pembuatannya, bahan herbal terlebih dahulu direndam selama satu hari. Setelah melalui proses ekstraksi, cairan kemudian dicampurkan dengan gelatin hingga memiliki tekstur yang lebih kental.
Adonan tersebut selanjutnya dituangkan ke dalam cetakan. Setelah itu diperlukan waktu sekitar tiga hari hingga permen mengeras dan siap digunakan.
“Untuk proses keseluruhan dari awal sampai menjadi permen paling cepat empat hari. Bahan seperti kemangi, kayu manis dan daun mint harus direndam satu hari, kemudian dari cetakan sampai mengeras membutuhkan waktu sekitar tiga hari,” terang Dhiva.
Dhiva mengaku tidak menyangka penelitian yang mereka kerjakan bisa membawa mereka hingga ke ajang internasional di Malaysia. Awalnya, karya tersebut hanya diikutkan dalam proses seleksi paper penelitian di Indonesia.
Paper penelitian itu diseleksi pada Agustus 2026. Setelah lolos tahap seleksi, tim SMAN 1 Lumajang mendapat kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka di Universiti Putra Malaysia.
“Kami tidak menyangka kalau karya kami ternyata lolos di Malaysia. Saat itu paper kami diseleksi dulu di Indonesia untuk diambil finalisasi,” ungkapnya.
Pada babak final, ketiga pelajar mempresentasikan hasil penelitian melalui media poster. Mereka diberi waktu sekitar tujuh menit untuk menjelaskan gagasan, proses pembuatan hingga tujuan dari inovasi tersebut.
Setelah presentasi, para juri memberikan sejumlah pertanyaan untuk menguji pemahaman peserta terhadap penelitian yang dibuat.
“Kami presentasi menggunakan poster selama tujuh menit. Setelah itu juri melakukan penilaian dan ada sesi tanya jawab. Waktu itu ada sekitar tiga sampai empat pertanyaan dari juri,” tuturnya.
Ajang 3rd ISS tersebut diikuti peserta dari sejumlah negara. Dhiva menyebut terdapat pelajar dari tujuh negara yang mengikuti kompetisi tersebut dengan peserta asal Indonesia menjadi salah satu yang paling banyak.
“Setiap tim paling banyak lima orang. Ada yang tiga orang dan ada juga yang sendiri. Alhamdulillah kami mendapatkan silver dan best poster,” katanya.





