
Lumajang, (DOC) — Dua siswa SMA Negeri 1 Lumajang, Jawa Timur, menorehkan prestasi dalam ajang 3rd International Student Symposium (ISS) yang digelar di Malaysia.
Keduanya adalah Aisyah Putri Syahrani dan Muhammad Ilham Dwipangga. Siswa kelas X tersebut berhasil meraih juara 3 atau Bronze Medal sekaligus penghargaan Favorite Poster melalui karya ilmiah mengenai pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai bahan pembuatan pupuk organik.
Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Sentosa Foundation bersama Universiti Putra Malaysia (UPM). Presentasi karya dilakukan di UPM CEM, Serdang, Selangor, Malaysia.
Karya yang dibawa Aisyah dan Ilham berangkat dari persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar, khususnya mengenai kebutuhan pupuk bagi tanaman dan keterbatasan ketersediaan bahan pupuk di pasaran.
Aisyah Putri Syahrani mengatakan, gagasan penelitian tersebut muncul setelah melihat keresahan petani di Lumajang yang membutuhkan pupuk untuk menunjang tanaman mereka.
“Awalnya kami melihat keresahan petani di Lumajang yang membutuhkan pupuk. Di sisi lain, ketersediaan pupuk di toko juga semakin terbatas. Dari situ kami mencoba mencari alternatif dengan memanfaatkan bahan-bahan alami,” ujar Aisyah, Rabu (23/9/2026).
Menurut Aisyah, inovasi tersebut tidak menggunakan kotoran hewan sebagai bahan utama. Mereka justru memanfaatkan berbagai limbah yang mudah ditemukan dalam aktivitas rumah tangga sehari-hari.
Beberapa di antaranya berupa sisa makanan, sayuran, hingga air bekas cucian beras yang selama ini sering langsung dibuang.
“Bahan yang kami gunakan mudah ditemukan karena berasal dari limbah rumah tangga. Sisa makanan, sayuran dan air cucian beras juga bisa dimanfaatkan daripada hanya dibuang,” katanya.
Dalam proses penelitian, sekam padi dan bonggol jagung terlebih dahulu diolah hingga menjadi arang. Bahan tersebut kemudian dicampurkan dengan cairan hasil pengolahan limbah rumah tangga.
Aisyah menjelaskan, cairan tersebut dikembangkan melalui proses fermentasi dengan memanfaatkan air gula. Selanjutnya, bahan yang telah tercampur difermentasi dalam wadah tertutup.
“Jadi sekam padi dan bonggol jagung kami bakar terlebih dahulu sampai menjadi arang. Setelah itu dicampur dengan cairan yang kami kembangkan dari limbah rumah tangga dan kemudian difermentasi,” jelasnya.
Proses fermentasi menjadi salah satu tahapan yang membutuhkan waktu cukup lama. Menurut Aisyah, bahan tersebut harus dibiarkan selama sekitar satu bulan sebelum dapat digunakan.
Ia mengatakan, penelitian itu juga dilatarbelakangi pertimbangan biaya. Bahan tertentu yang digunakan dalam pengembangan penelitian dinilai cukup mahal apabila harus dibeli, sehingga mereka mencoba menghasilkan sendiri dengan memanfaatkan limbah yang tersedia di sekitar.
“Kalau bahan tersebut harus membeli harganya cukup mahal. Karena itu kami mencoba mengembangkan sendiri dengan memanfaatkan limbah rumah tangga,” ujarnya.
Setelah melalui proses fermentasi, sekam padi dan bonggol jagung yang telah menjadi arang tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membantu menyuburkan tanaman.
Hasil penelitian itu selanjutnya dipresentasikan dalam kompetisi di Malaysia. Aisyah mengaku bersyukur karena karya yang mereka kembangkan bersama Ilham berhasil mendapatkan Bronze Medal dan Favorite Poster.
“Alhamdulillah hasil penelitian kami bisa mendapatkan juara tiga. Proses yang paling lama memang fermentasinya karena membutuhkan waktu sekitar satu bulan,” kata Aisyah.
Bagi Aisyah, keikutsertaan dalam kompetisi internasional tersebut bukan hanya soal penghargaan. Kesempatan mengikuti kegiatan di luar negeri juga memberinya pengalaman baru dan memperluas wawasan.
Ia dapat bertemu dengan peserta dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia yang mengikuti kompetisi tersebut.
“Saya bangga bisa mengikuti lomba di kampus luar negeri. Banyak pengetahuan baru yang saya dapat karena bisa bertemu dan berinteraksi dengan peserta dari berbagai daerah,” ungkapnya.
Dalam ajang tersebut, Aisyah dan Ilham juga berkesempatan bertemu peserta dari sejumlah institusi pendidikan, antara lain President University, Universitas Syiah Kuala, Universitas Teuku Umar, Universitas Gorontalo, SMA Negeri 5 Surabaya, SMA Garuda Cendekia dan MAN 2 Kota Batam.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting bagi kedua pelajar SMA Negeri 1 Lumajang untuk terus mengembangkan kemampuan riset dan inovasi, khususnya dalam memanfaatkan bahan yang ada di lingkungan sekitar menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.