Kehabisan Blanko, 10 Ribu E-KTP Tak Tercetak

Surabaya,(DOC) – Kepala Dispendukcapil Kota Surabaya, Suharto Wardoyo mengatakan, blanko E-KTP yang dijatah dari pemerintah pusat memang sedang seret sejak bulan puasa yang lalu. Ya, untuk pencetakan E-KTP, memang blankonya disediakan langsung oleh pemerintah pusat yaitu Kementerian Dalam Negeri.
Setiap stok blanko di Surabaya habis maka Dispendukcapil harus mengambil lagi stok blanko yang dibutuhkan. Namun sejak awal bulan puasa tahun 2016 lalu, stok blanko yang diberikan ke pemerintah kota Surabaya menurun drastis dari jumlah yang dibutuhkan.
“Biasanya kita sekali ambil itu dapat sebanyak 10 ribu blanko. Nah kemarin waktu bulan puasa sempat saya kesana nggak dapat sama sekali. Lalu minggu berikutnya diberikan hanya 456 lembar blanko saja,” kata Suharto, Rabu(3/8/2016) kemarin.
Pria yang akrab disapa Anang ini menjelaskan, jumlah itu belum normal hingga sekarang. Bahkan sejak akhir bulan puasa lalu, pemkot terpaksa harus meminjam ke daerah lain untuk bisa mencukupi kebutuhan pencetakan E-KTP di Surabaya. Tepatnya pemkot Surabaya meminjam blanko E-KTP dari Kabupaten Bangkalan dan Kota Batu.
“Kami pinjam dari Bangkalan sebanyak 1.800 blanko. Itu stoknya sudah habis sejak puasa,” kata Anang.
Lalu, karena stok sudah habis dan pemerintah pusat juga tidak segera memberikan blanko E-KTP maka pemkot Surabaya pun kembali meminjam dari daerah lain. Kali ini pemkot ngutang ke Kota Batu. Jumlah yang dihutang dari Kota Apel tersebut adalah 912 lembar blanko E-KTP.
“Saat ini kita sedang menghabiskan stok yang dari Batu. Setalah itu kita massih belum punya blanko lagi,” kata Anang.
Lebih lanjut, Anang menjelaskan, saat ini timnya sedang berangkat ke Jakarta untuk mengambil blanko di Kemendagri. Namun kabarnya jumlah yang bisa diambil pun masih belum bisa normal. Kabarnya yang bisa diberikan hanya 456 lembar. Maka, Anang sedang mengintruksikan agar timnya menginap dulu di Kemendagri agar bisa mendapatkan lebih banyak blanko E-KTP. Sebab blanko dari Kemendagri itu tidak bisa diberikan gelondongan, melainkan dijatah per-hari.
“Tapi jumlahnya juga belum pasti, makanya saya suruh nginap dulu, sapa tau besok dapat 500 lagi kan lumayan,” imbuh Anang.
Pihaknya mengaku sangat menyayangkan kondisi kekurangan blanko ini. Sebab beberapa waktu yang lalu pelayanan E-KTP ini sempat terganggu masalah alat pencetak yang kurang. Namun setelah alat dipenuhi, namun ternyata ada permasalahan dengan jaringan. Setelah semua sudah beres justru saat ini permasalahannya adalah masalah blanko yang habis.
Gara-gara kehabisan stok lembar blanko E-KTP ini, maka pencetakan E-KTP pun juga terhambat. Banyak alat yang terpaksa nganggur dan tidak digunakan untuk mencetak. Hanya menghabiskan blanko yang masih ada. Oleh sebab itu jumlah antrian yang sudah masuk dan belum dicetak pun terus bertambah. Sebelumnya yang hanya 7000 antrian saja, saat ini sudah membengkak lebih dari 10 ribu antrian.
“Bagi yang antri ini, mereka langsung kami berikan surat keterangan telah rekam EKTP sebagai bekal mereka untuk keperluan membuat SIM, paspor, bank, akta nikah, dan juga urusan yang lain,” ulas Anang.
Ia sangat berharap kekurangan blanko ini bisa segera teratasi. Sebab daerah pun tidak bisa mencetak blanko lantaran ada chip dalam blanko yang tidak bisa di cetak sendiri di daerah. Kalau mau mengajukan dicetak di daerah, maka harus ada perubahan undang-undang terlebh dahulu.
Sebab saat ini pun pemkot Surabaya sedang ditagih tagih oleh Kabupaten Bangkalan dan Kota Batu untuk segera mengembalikan blanko E-KTP yang sudah dipinjam. Padahal di Surabaya juga masih belum bisa mencukupi kebutuhan E-KTPnya.(im/r7)