Surabaya,(DOC) – Kader PDI Perjuangan Kota Surabaya, Achmad Hidayat, mendorong pemerintah kota dan para pakar sejarah untuk melakukan penelusuran ilmiah yang lebih komprehensif terhadap sejarah Surabaya yang selama ini di anggap “hilang” atau belum tercatat secara utuh.
Menurut Achmad, narasi sejarah Surabaya tidak boleh berhenti pada peristiwa Pertempuran 10 November atau kisah Sawunggaling saja. Ia menekankan pentingnya menggali kembali kejayaan Surabaya di abad ke-16 hingga ke-17, terutama peran strategis Panembahan Jayalengkara yang bertahta pada 1601–1625.
“Perjalanan panjang Surabaya sejak era Ujung Galuh hingga saat ini harus di rangkai dalam literasi ilmiah yang utuh. Ini adalah dasar edukasi penting bagi generasi penerus agar tidak kepaten obor (kehilangan jejak sejarah),” ujar Achmad Hidayat, Selasa (10/2/2026).
Jejak Peradaban di Kawasan Bungkul Achmad menyoroti wilayah Bungkul yang pada masa lampau merupakan pusat kekuasaan sekaligus titik strategis pertemuan hulu Kali Mas dan Kali Jagir. Ia menyesalkan hilangnya jejak fisik seperti penemuan makam kuno beraksara Jawa kuno di wilayah Darmo beberapa tahun lalu yang kini telah berubah menjadi area komersial.
“Makam kuno itu adalah bukti vital. Apakah itu ada kaitannya dengan Sunan Bungkul atau peradaban era Panembahan Jayalengkara? Hal-hal seperti ini yang harus menjadi perhatian serius Pemkot, sejarawan, dan budayawan,” tegasnya.
Mewarisi “Api” Perjuangan Selain aspek sejarah kekuasaan, Achmad juga mengingatkan bahwa Surabaya telah lama menjadi simbol toleransi. Hal ini tercermin dari harmoni antar-etnis dan agama sejak era Ki Ageng Supo (Sunan Bungkul) hingga Sunan Ampel.
Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh pihak untuk mematuhi arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pelestarian cagar budaya dan menjalankan pesan mendalam dari Bung Karno.
“Bangun peradaban dengan ‘Api’ perjuangan para pendahulu kita. Seperti pesan Bung Karno, warisilah apinya, bukan abunya,” pungkas Achmad. (r6)





