Ancaman Siklon Meningkat
Surabaya,(DOC) – Frekuensi munculnya siklon tropis di Samudera Hindia meningkat dalam beberapa pekan terakhir dan memicu kewaspadaan pemerintah serta masyarakat. Pakar mitigasi bencana ITS, Dr. Amien Widodo MSi, menegaskan bahwa kondisi ini harus mendorong penguatan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana hidrometeorologis.
Peringatan dini BMKG tidak mampu menahan dampak Siklon Seniyar yang membawa hujan ekstrem di beberapa wilayah Sumatera. Banjir bandang dan longsor menyebabkan 836 orang meninggal, 518 orang hilang, dan lebih dari 10.500 rumah rusak berat.
Kerusakan infrastruktur juga meluas. Sebanyak 536 fasilitas umum, 25 fasilitas kesehatan, 326 fasilitas pendidikan, 185 rumah ibadah, dan 295 jembatan rusak. Banyak desa terputus aksesnya. Air bersih, listrik, dan komunikasi lumpuh total.
Menurut Amien, topografi bergunung-gunung dan kerusakan hutan selama puluhan tahun memperburuk dampak bencana.
“Tanah menjadi tidak stabil, dan banjir bandang membawa lumpur, batu, serta kayu gelondongan dengan daya rusak besar,” ujarnya.
Dalam Rapat Dengar Pendapat dengan DPR, BMKG menyampaikan adanya bibit siklon tropis baru di selatan Pulau Jawa. Fenomena ini dapat mempengaruhi cuaca di Jawa, Bali, NTT, hingga Timika. Amien mengingatkan perlunya langkah mitigasi cepat agar tragedi Sumatera tidak terulang.
Jawa Timur Siaga 14 Potensi Bencana
BPBD Jawa Timur memetakan 14 potensi bencana, termasuk 13 jenis bencana alam seperti banjir bandang, longsor, cuaca ekstrem, dan tsunami. Wilayah rawan tersebar di lebih dari 30 kabupaten/kota, mulai Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Malang, Jember, hingga Banyuwangi.
Amien menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana tidak bisa bergantung sepenuhnya pada pemerintah. Ia merujuk penelitian Gempa Kobe (1995) yang menunjukkan bahwa penyelamatan diri sendiri dan keluarga mencapai 67 persen.
“Semua anggota keluarga, termasuk lansia, balita, dan penyandang disabilitas, harus memahami ancaman di sekitar mereka,” katanya.
Ia menambahkan bahwa desa sering terisolasi ketika bencana besar terjadi.
“Jika masyarakat memiliki pengetahuan dan persediaan yang benar, mereka bisa bertahan tanpa bergantung pada bantuan eksternal,” ujarnya.
Amien mendorong sinergi antara pemerintah, komunitas lokal, dan sektor swasta.
“Ketangguhan tidak lahir secara instan. Itu harus dibangun lewat edukasi, latihan, dan kolaborasi. Jika setiap keluarga dan kampung sadar ancaman, 95 persen dari mereka akan selamat,” pungkasnya.(ode/r7)





