Surabaya,(DOC) – ABUJAPI Jawa Timur memperkuat komitmennya untuk mendorong transformasi industri jasa pengamanan. Melalui forum Sinergi Industri Pengamanan 2026, mereka mempercepat digitalisasi, meningkatkan ketangguhan bisnis, serta menyesuaikan diri dengan regulasi berbasis risiko.
Forum ini mempertemukan pelaku Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUJP). Dalam kesempatan ini, mereka membahas perubahan besar di industri, terutama setelah hadirnya regulasi baru yang menuntut profesionalisme dan adaptasi teknologi.
Dalam forum tersebut, peserta menyoroti implementasi PP Nomor 28 Tahun 2025. Aturan ini mengubah sistem perizinan nasional melalui Online Single Submission (OSS).
Selain itu, regulasi tersebut juga mendorong pelaku industri untuk meningkatkan standar operasional sekaligus memperkuat tata kelola bisnis.
Ketua Umum ABUJAPI Jatim, Musfiroh Agus Sumitro, pun meminta pelaku BUJP memanfaatkan momentum ini untuk bertransformasi.
“PP Nomor 28 Tahun 2025 menuntut pelaku BUJP memperkuat manajemen risiko. Karena itu, kita harus memperbaiki tata kelola dan mempercepat digitalisasi agar bisnis tetap tangguh,” ujarnya.
Sinergi dengan Kepolisian
Sementara itu, Kakorbinmas Baharkam Polri, Kalingga Rendra Raharja, menekankan pentingnya kolaborasi antara industri dan aparat negara.
Ia menilai regulasi berbasis risiko sebagai langkah maju. Namun demikian, pelaku industri tetap harus menyiapkan SDM, memperkuat pengawasan, serta menjaga standar operasional.
“Pelaku BUJP harus menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga profesionalisme agar sistem berjalan optimal,” tegasnya.
Selanjutnya, Dirbinmas Polda Jatim Kombes Pol Eko Santoso menilai kualitas SDM sangat menentukan keberhasilan industri.
Ia juga meminta perusahaan tidak hanya berinvestasi pada teknologi, tetapi turut meningkatkan kesejahteraan dan kompetensi tenaga kerja.
“Dengan begitu, tenaga pengamanan menjadi lebih kompeten dan mendapat dukungan layak sehingga layanan semakin di percaya masyarakat,” katanya.
Dunia Usaha Beri Dukungan
Di sisi lain, Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Andik Dwi Putranto, menilai transformasi ini akan memperkuat ekosistem bisnis di daerah.
Menurutnya, digitalisasi dan regulasi berbasis risiko mampu menciptakan kepastian usaha sekaligus meningkatkan kepercayaan investor.
“Industri pengamanan berperan penting dalam mendukung iklim investasi yang sehat dan kompetitif,” ujarnya.
Lebih lanjut, para pelaku industri juga sepakat bahwa digitalisasi menjadi kunci peningkatan efisiensi dan daya saing. Oleh sebab itu, mereka mendorong pemanfaatan data, integrasi sistem, serta penguatan teknologi operasional.
Akhirnya, forum ini menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis. Kesepakatan tersebut menjadi pijakan untuk membangun ekosistem industri yang adaptif, profesional, dan berkelanjutan di Jawa Timur.
Dengan demikian, Sinergi Industri Pengamanan 2026 di harapkan menjadi momentum penting untuk mendorong industri jasa pengamanan agar semakin modern, tangguh, dan kompetitif di tingkat nasional.(lup/r7)





