
Surabaya, (DOC) – Meski berhasil mempertahankan status bebas suspek flu burung dan antraks dalam lima tahun terakhir, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tidak mengendurkan kewaspadaan terhadap ancaman kesehatan masyarakat. Kini, Pemkot Surabaya memperketat pengawasan terhadap risiko penyakit zoonosis lainnya, khususnya leptospirosis dan Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang trennya masih berfluktuasi.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), hingga pertengahan tahun (minggu ke-27) 2026, tercatat ada 14 kasus suspek leptospirosis dan 33 kasus GHPR di Surabaya. Angka ini melanjutkan catatan sepanjang tahun 2025 lalu yang mendeteksi 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus GHPR.
Langkah kesiapsiagaan ini kembali ditegaskan dalam Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis yang digelar di Puskesmas Medokan Ayu, Selasa (21/7/2026).
Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Moch. Ashadi M, menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun jauh sebelum kedaruratan kesehatan terjadi.
“Keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan dan surveilans, tetapi juga pada komunikasi risiko yang cepat, tepat, transparan, dan dapat dipercaya,” ujar Ashadi.
Salah satu fokus utama pengawasan Pemkot Surabaya adalah potensi lonjakan penyakit saat musim hujan, terutama leptospirosis. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Surabaya, dr. Atiek Tri Arini, M.Kes, menjelaskan bahwa pihaknya secara rutin menerbitkan surat edaran kepada UPT, kecamatan, dan kelurahan terkait bahaya banjir serta potensi penyakit yang menyertainya.
Masyarakat diimbau untuk selalu melindungi diri, seperti menggunakan alas kaki saat beraktivitas di area banjir dan segera membersihkan diri setelah terkena air hujan atau genangan.
“Kebiasaan ringan tapi dampaknya besar adalah cuci tangan. Sosialisasi ini terus kami lakukan dari anak usia PAUD, pelajar, hingga akademisi. Dari satu perilaku kecil yang diulang berkali-kali, dampaknya luar biasa untuk mencegah penularan penyakit,” kata Atiek.
Atiek menekankan bahwa kebersihan lingkungan sama pentingnya dengan kebersihan diri. Tikus sebagai hewan pembawa bakteri penyebab leptospirosis dapat hidup dan berkembang biak kapan saja, tidak hanya saat musim hujan.
“Tikus itu sukanya di tempat yang rungsep-rungsep (kotor). Jika kencing tikus mengenai kulit kita yang ada lukanya atau tidak intak, bakteri leptospirosis bisa masuk,” tegasnya.
Oleh karena itu, ia meminta warga mengenali gejala awal leptospirosis agar penanganan tidak terlambat. Penyakit ini umumnya diawali dengan demam tinggi dan nyeri di seluruh tubuh, namun jarang disertai batuk atau pilek. Jika kondisi berlanjut hingga pasien mengalami gangguan buang air kecil, warga diminta untuk segera memeriksakan diri ke rumah sakit.
Selain leptospirosis, perhatian juga ditujukan pada ancaman GHPR. Meski demikian, Pemkot Surabaya mengimbau warga agar tidak panik berlebihan karena Surabaya bukan merupakan wilayah endemis rabies. Kendati begitu, edukasi dan deteksi dini tetap menjadi prioritas guna menekan potensi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Mewakili Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya, drh. Wafiroh, membeberkan sejumlah langkah konkret pencegahan mandiri yang bisa dilakukan masyarakat, seperti rutin melakukan vaksinasi tahunan untuk hewan peliharaan seperti anjing, kucing, dan monyet, menjaga kebersihan diri serta menggunakan alas kaki tertutup (seperti sepatu bot) saat musim hujan atau di area genangan air, dan tidak menyembelih atau mengonsumsi ternak/unggas yang sakit atau mati mendadak, serta memastikan daging dan telur dimasak hingga matang sempurna.
Untuk memperkuat benteng pertahanan kesehatan masyarakat, Dinkes Kota Surabaya menggandeng Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), serta Pokja Risk Communication and Community Engagement (RCCE).
Melalui kerja sama ini, elemen garda terdepan seperti promotor kesehatan, jurnalis, organisasi masyarakat (NU dan Muhammadiyah), PMI, hingga pengelola pasar dibekali keterampilan komunikasi risiko dan kemampuan menangkal hoaks terkait wabah.
Program Manager Portkesmas, dr. Basra Ahmad Amru, menyebutkan bahwa Surabaya menjadi satu dari lima daerah prioritas (bersama KBB, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Malang) dalam penguatan koordinasi lintas sektor ini.
“Jangan sampai ketika wabah penyakit muncul, kita tidak siap. Penguatan koordinasi di tingkat daerah adalah fondasi penting agar penanganan bisa berjalan cepat dan terintegrasi,” tegas dr. Basra.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Pokja RCCE, Rizky Ika Syafitri, menekankan pentingnya hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang akurat dan mudah dipahami. Peran media, tokoh agama, dan tokoh masyarakat sangat krusial untuk menyampaikan pesan-pesan pencegahan agar dapat langsung menyentuh serta mengubah perilaku hidup bersih di tengah masyarakat.





