BIPA Oslo: Bahasa Indonesia Tak Sekadar Diajarkan, Tapi Dihidupkan

BIPA Oslo: Bahasa Indonesia Tak Sekadar Diajarkan, Tapi Dihidupkan
BIPA Oslo: Bahasa Indonesia Tak Sekadar Diajarkan, Tapi Dihidupkan

Oslo,(DOC) – Penutupan Program BIPA Musim Semi 2025 di Oslo bukanlah garis akhir, melainkan titik lanjut dari upaya membawa bahasa Indonesia ke panggung global. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tapi sarana membangun pemahaman, mempererat diplomasi, dan memperkuat persahabatan antarbangsa.

“Bahasa Indonesia kini memiliki pijakan global yang kuat. Pengakuan sebagai bahasa resmi di Sidang Umum UNESCO adalah tonggak penting,” tegas Hafidz Muksin, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), saat menutup Program BIPA Oslo secara daring, Sabtu (28/6).

Bacaan Lainnya

Program BIPA kini hadir di 57 negara, didukung oleh ratusan mitra lembaga dan ribuan pemelajar aktif tiap tahun. Badan Bahasa terus memperluas dukungan dengan mengirimkan pengajar BIPA, baik secara daring maupun luring, untuk memastikan mutu pengajaran di luar negeri tetap optimal.

“Ini bukan sekadar program bahasa, tapi perwujudan cita-cita menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional,” tambah Hafidz.

Bahasa adalah Alat Diplomasi dan Perdamaian

Duta Besar RI untuk Norwegia, Teuku Faizasyah, menyebut kelas BIPA sebagai bagian penting dari diplomasi budaya Indonesia. Ia menekankan bahwa bahasa adalah alat penghubung antarkebudayaan, terlebih di tengah dunia yang penuh konflik.

“Bahasa Indonesia membawa pesan damai, bukan sekadar tata bahasa. Ia menghubungkan, bukan memisahkan,” ujarnya.

Teuku berharap kelas BIPA akan semakin mendorong rasa ingin tahu warga Norwegia terhadap Indonesia dan memperkuat hubungan kedua negara.

Antusiasme Pemelajar Tinggi, Tantangan Tak Menyurutkan Semangat

Pengajar BIPA, Sherly Lusiana Simorangkir, menyebut program ini sangat dinanti para peserta di Oslo. Kelas menjadi ruang aktif untuk mengenal Indonesia secara menyeluruh, dari bahasa hingga budayanya.

Salah satu pemelajar, Jurre van Dijk, mengungkapkan meski kelas berlangsung setelah jam kerja, semangatnya tetap tinggi. “Ini tantangan yang menyenangkan. Saya belajar banyak, dan saya ingin suatu hari bisa datang langsung ke Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga:  Komite DPD RI: SPMB Adalah Angin Segar bagi Pemerataan Pendidikan

Program BIPA bukan hanya soal belajar kata dan kalimat. Ia adalah pintu masuk ke dalam pemahaman lintas budaya, jembatan persahabatan antarbangsa, dan bagian dari strategi nasional untuk memperluas pengaruh bahasa Indonesia secara global.

Penutupan BIPA Oslo 2025 menandai komitmen semua pihak—pemerintah, pengajar, KBRI, hingga mitra luar negeri—untuk terus menjaga nyala bahasa Indonesia di dunia internasional.

Pos terkait