Bukan Sekadar Banyak Usaha, Ini Kunci Koppontren Jatim Bisa Naik Kelas dan Mandiri

Bukan Sekadar Banyak Usaha, Ini Kunci Koppontren Jatim Bisa Naik Kelas dan Mandiri
Ilustrasi koperasi pondok pesantren. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC)Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) di Jawa Timur terus didorong untuk menjadi motor penggerak utama ekonomi berbasis religi. Namun, untuk benar-benar naik kelas dan berdampak bagi masyarakat sekitar, penambahan unit bisnis dinilai tidak lagi cukup. Koppontren kini dituntut mengubah arah kemudi menuju pengelolaan modal yang profesional dan tata kelola organisasi yang sehat.

Menjawab tantangan tersebut, Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur bersama One Pesantren One Product (OPOP) Jatim menggelar Workshop Tata Cara dan Evaluasi Permodalan di Surabaya pada Kamis (2/7/2026).

Bacaan Lainnya

Sebanyak 50 pengurus Koppontren digembleng untuk memperkuat kapasitas pengelolaan pembiayaan serta menyusun strategi bisnis yang berkelanjutan.

Kepala Bidang Pembiayaan Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Arief Lukman Hakim, menegaskan bahwa indikator kesehatan sebuah koperasi telah bergeser. Koperasi yang kuat tidak lagi diukur dari seberapa banyak papan nama unit usaha yang dimiliki, melainkan dari transparansi dan keberlanjutannya.

“Koperasi pesantren harus mampu menjadi lembaga ekonomi yang kuat dan profesional. Koperasi yang sehat itu dilihat dari kualitas tata kelola organisasi, transparansi keuangan, serta kemampuan mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” ujar Arief.

Ia menambahkan, posisi Koppontren sangat strategis dalam membangun kemandirian ekonomi pesantren sekaligus menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat sekitar. Untuk mewujudkannya, diperlukan sinergi kokoh antara pemerintah, pesantren, lembaga keuangan, hingga mitra usaha demi menciptakan ekosistem yang berdaya saing.

Upaya membangun ekosistem ini diperkuat lewat program OPOP Jatim. Hery Istanto dari Bappeda Jatim menjelaskan bahwa OPOP hadir sebagai instrumen pengintegrasi ekonomi pesantren, mulai dari peningkatan kualitas SDM, pengembangan produk unggulan, hingga membuka keran akses pasar dan pembiayaan.

Peluang emas ini pun disambut oleh sektor perbankan. Siti Umi Hanik dari Bank Jatim Syariah turut memaparkan berbagai skema pembiayaan syariah yang siap dikucurkan untuk mempertebal modal usaha Koppontren sekaligus mempercepat ekspansi bisnis mereka.

Baca Juga:  Khofifah: Pesantren Harus Jadi Pusat Peradaban

Sinyal kebangkitan ekonomi dari balik dinding pesantren ini pun bukan sekadar wacana. Perwakilan Bidang Santripreneur OPOP Jatim, Dzikrullah, mengungkapkan bahwa kewirausahaan pesantren menunjukkan tren yang sangat positif dalam beberapa tahun terakhir.

“Semakin banyak pesantren yang sadar dan mulai menguatkan kelembagaan koperasinya sebagai fondasi utama kemandirian ekonomi,” ungkap Dzikrullah.

Melalui lompatan paradigma dari kuantitas ke kualitas tata kelola ini, Koppontren di Jawa Timur diharapkan tidak hanya subur secara jumlah, tetapi tumbuh menjadi raksasa ekonomi baru yang sehat, profesional, dan berkontribusi nyata bagi perekonomian daerah.

Pos terkait