Dinkes Klaim penderita DBD di Surabaya Turun

Surabaya,(DOC) – Penderita demam berdarah dengue (DBD) di wilayah kota Surabaya hingga akhir Januari 2019 mengalami penurunan.

Jumlah tersebut berbanding terbalik dengan data penderita DBD se Jawa Timur yang justru meningkat.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) kota Surabaya, jumlah penderita DBD hanya sebanyak 16 orang. Itupun terjangkit setelah pulang dari luarkota Surabaya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya,  drg Febria Rachmanita, mengatakan, pada bulan Januari 2018 lalu jumlah penderita DBD sebanyak 42 orang.

“Berdasarkan  PE (penyelidikan epidemiologi) ternyata mereka itu tidak  digigit nyamuk aedes aegypti bukan di rumahnya, sekolah atau tempat kerjanya. Setelah kami tanyai, mereka yang terkena DBD itu habis bepergian ke luar kota,” tegas wanita yang akrab disapa Feni.

Ketika disinggung mereka itu bepergian ke daerah mana? Feni menyatakan ke daerah di Jatim yang rawan akan DBD. Ketika apakah ada rencana pemkot menghimbau agar warga berhati-hati ke daerah yang rawan terkena DBD, Feni menyatakan itu bukan kewenangan Pemkot Surabaya. Sebab, itu sudah masuk ranah Dinkes Jatim.

Soal penurunan jumlah penderita DBD di Surabaya, Feni menyatakan ini tidak lepas dari komitmen Wali kota untuk terus mengingatkan warganya menjaga kebersihan lingkungan. Untuk wali kota sudah mengirim surat edaran kepada masyarakat agar menjaga kebersihan dan melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

“Jadi setiap minggu ada gerakan di masyarakat untuk melakukan PSN. Dan masyarakat sendiri antusias karena bisa menghindari serangan demam berdarah,” tegas dia.

Masih lanjut dia, di Surabaya juga ada juru pemantau jentik (jumantik) sebanyak 23 ribu kader. Mereka secara rutin mengontrol bak mandi milik warga agar tidak terdapat jentik-jentik.

“Yang utama memberantas nyamuk DBD adalah PSN. Sedangkan fogging itu pilihan terakhir jika di lokasi tersebut berdasarkan hasil PE dinyatakan positif ,” tegas dia.

Baca Juga:  Penderita Hepatitis A Menurun, Dinkes Tetap Antisipasi Penyebarannya

Selain itu ditambah dengan adanya program satu rumah satu jumantik. Artinya dalam satu rumah itu ada yang memantau jentik  di situ. “Jadi ada pemantaunya di setiap rumah. Dan program ini berjalan hampir 3 tahun,” kata dia.

Ia menambahkan yang patut diwaspadai adalah  Maret dan April, yang biasanya punya jumlah penderita DBD. Itu terjadi  karena siklus tiga tahunan. Namun ia berharap siklus itu tak menyerang  Surabaya. “Makanya masyarakat harus terus menggiatkan PSN,” tegas dia.

Sementara itu berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Surabaya, pada tahun 2018 ada 321 penderita DBD dan yang meninggal dunia 1 orang. Sedangkan pada tahun 2017, jumlah penderita DBD  sekitar 330-an orang dan yang meningggal sebanyak 2 orang. “Jadi setiap tahun terjadi penurunan,” cetus dia.(r7)

Pos terkait