Diskusi Pakar Usulkan Strategi Terintegrasi Penanganan Dampak Mikroplastik

 

Diskusi Pakar Usulkan Strategi Terintegrasi Penanganan Dampak Mikroplastik

Bacaan Lainnya

Surabaya,(DOC) – Ancaman mikroplastik di Indonesia dilaporkan telah mencapai level sistemik yang mengkhawatirkan. Dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), para pakar medis dan akademisi mengungkapkan fakta mengenai kontaminasi mikroplastik dalam darah manusia yang memicu berbagai penyakit degeneratif.

Dekan Fakultas Kedokteran UKWMS, Laksamana Pertama TNI Purn. Dr. Herjunianto SpPD, MMRS, menyoroti fenomena tingginya pasien cuci darah di bawah usia 25 tahun, khususnya di wilayah Gerbang Kertasusila. Menurutnya, kontaminasi mikroplastik menyebabkan kerusakan sel dan gangguan hormon yang berujung pada penyumbatan kardiovaskular, diabetes mellitus, hingga infertilitas.

“Keberadaan mikroplastik dalam sistem peredaran darah manusia bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan publik yang memerlukan penanganan medis dan kebijakan yang serius,” tegas Dr. Herjunianto.

Sebagai langkah rehabilitasi sel yang rusak akibat paparan plastik, tim pakar merumuskan tiga strategi integratif:

  • Intervensi Nutrisi: Mengonsumsi kunyit sebagai anti-inflamasi alami, serta buah-buahan tinggi antioksidan seperti nanas, manggis, dan asam jawa.
  • Aktivitas Fisik Terukur: Melakukan olahraga penghimpun energi seperti meditasi, Taichi, atau Yoga untuk pemulihan energi sel, alih-alih olahraga berat yang menguras energi secara berlebihan.
  • Penguatan Regulasi: Mendesak Pemerintah untuk menetapkan standar nasional batas kontaminasi mikroplastik dan mempertegas aturan Extended Producer Responsibility (EPR) bagi industri.

Sumber Polusi

Dalam diskusi tersebut, Dr. Roy Hendroko Setyobudi dari UMM memberikan penekanan pada sumber polusi yang sering terabaikan, yakni abrasi ban kendaraan. Data terbaru menunjukkan bahwa 65% mikroplastik di udara perkotaan berasal dari gesekan ban di jalan raya. Ia mendesak industri otomotif untuk mulai berinovasi pada material yang lebih rendah emisi.

Sementara itu, dari perspektif perlindungan anak, Dr. dr. Ni Putu Sudewi, SpA, mengingatkan bahwa anak-anak adalah kelompok paling rentan terhadap partikel yang terhirup maupun tertelan. Senada dengan itu, peneliti Ecoton Sofi Azilan menekankan pentingnya pemilahan sampah dari rumah tangga dan teknologi filtrasi pada IPAL sebagai benteng utama pencegahan.

Baca Juga:  Mangrove Wonorejo Terkepung Sampah Plastik, 800 Kg Dievakuasi Saat Peringatan Hari Mangrove Nasional 2025

Langkah ini diharapkan menjadi pemantik kolaborasi lintas sektor untuk mengintegrasikan isu mikroplastik ke dalam kebijakan kesehatan lingkungan nasional demi melindungi generasi masa depan Indonesia. (r6)

Pos terkait