Surabaya,(DOC) – Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur, Mohammad Syarrafah, M.I.Kom., menggelar pelatihan public speaking bagi mahasiswa penghuni Asrama Mahasiswa Bibit Unggul Surabaya. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat tersebut, ia ingin meningkatkan kemampuan komunikasi, rasa percaya diri, dan keterampilan berbicara di depan umum para mahasiswa.
Dalam pelatihan itu, Syarrafah menegaskan public speaking menjadi kemampuan penting yang harus di miliki mahasiswa. Menurut dia, keterampilan berbicara di depan publik tidak hanya berguna di dunia akademik, tetapi juga di butuhkan dalam organisasi dan dunia kerja.
“Public speaking adalah keterampilan yang akan menjadi bekal penting ke depan. Mahasiswa harus mampu tampil percaya diri, menguasai materi, dan menyampaikan pesan secara jelas kepada audiens,” ujar Syarrafah.
Public Speaking Jadi Bekal Mahasiswa
Syarrafah menjelaskan public speaking merupakan bagian dari rumpun Ilmu Komunikasi, khususnya retorika atau seni berbicara di depan banyak orang secara langsung. Bentuknya meliputi pidato, presentasi, moderator, master of ceremony (MC), hingga penyampaian informasi dalam forum resmi.
Karena itu, mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan secara terstruktur dan meyakinkan. Selain memahami materi akademik, mahasiswa juga harus mampu menyampaikan ide dan argumentasi kepada publik.
Dalam sesi awal pelatihan, Syarrafah mengenalkan berbagai bentuk komunikasi publik kepada peserta. Ia menjelaskan bentuk komunikasi tersebut meliputi ceramah, briefing, konferensi pers, siaran radio dan televisi, sambutan, orasi, hingga berbicara di depan banyak orang.
Melalui materi tersebut, peserta memahami bahwa kemampuan public speaking dibutuhkan dalam berbagai aktivitas formal maupun nonformal.
Peserta Pelajari Metode Berbicara
Selain memberikan materi dasar, Syarrafah juga mengenalkan sejumlah metode public speaking. Salah satunya metode impromptu atau ad libitum, yakni berbicara spontan tanpa naskah.
Menurut dia, metode tersebut membuat pembicara terlihat lebih natural saat menyampaikan gagasan. Namun, pembicara juga harus mampu mengontrol alur pembicaraan agar tidak kehilangan fokus.
“Metode ini cocok digunakan dalam situasi mendadak. Tetapi pembicara tetap harus mampu mengontrol alur pembicaraan,” katanya.
Selain metode impromptu, peserta juga mempelajari metode manuscript atau membaca naskah. Dalam metode itu, pembicara menyampaikan materi dengan teks yang sudah disiapkan sebelumnya. Metode tersebut sering digunakan dalam acara resmi karena isi pidato harus tersusun rapi dan minim kesalahan.
Syarrafah juga mengenalkan metode memoriter atau hafalan. Melalui metode ini, pembicara menyampaikan materi yang sudah dihafalkan sebelumnya. Namun, metode tersebut membutuhkan kemampuan mengingat yang kuat.
Dari beberapa metode itu, Syarrafah lebih menyoroti metode extempore atau penggunaan catatan poin-poin penting. Dengan metode tersebut, pembicara dapat menyampaikan materi secara lebih fleksibel, tetapi tetap terarah.
“Dengan outline atau garis besar materi, pembicara bisa lebih leluasa berinteraksi dengan audiens tanpa kehilangan fokus pembahasan,” jelasnya.
Tekankan Persiapan Mental dan Materi
Tidak hanya membahas teknik berbicara, Syarrafah juga mengajak peserta memahami pentingnya persiapan sebelum tampil di depan publik. Menurut dia, kesiapan mental, fisik, dan penguasaan materi menjadi faktor utama keberhasilan public speaking.
Dari sisi mental, peserta belajar mengelola rasa gugup dengan menarik napas panjang, melemaskan tubuh, berdiri tegap, dan membangun rasa percaya diri.
Selain itu, peserta juga menjaga kondisi fisik dan tenggorokan agar tetap prima sebelum tampil. Dari sisi materi, peserta di dorong membaca banyak referensi, menyusun kerangka pembicaraan, dan memahami topik secara menyeluruh.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi bentuk kontribusi akademisi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur dalam memperkuat kapasitas generasi muda, khususnya mahasiswa penghuni Asrama Mahasiswa Bibit Unggul Surabaya.
Ke depan, pelatihan serupa di harapkan terus berkembang dengan materi lanjutan, seperti teknik pidato, keterampilan menjadi MC dan moderator, teknik vokal, hingga penguasaan bahasa tubuh.
“Dengan latihan yang berkelanjutan, mahasiswa diharapkan semakin percaya diri dalam menyampaikan gagasan dan mampu menjadi komunikator yang efektif di tengah masyarakat,” pungkasnya.(r7)
(Penulis: Mohammad Syarrafah/Dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur)





