dr. Hidayatullah Rektor UMAHA, dari Dokter hingga Dunia Akademik

Rektor UMAHA dr. Hidayatullah, Sp.N., mengenakan toga dan busana akademik hitam berornamen emas.Sidoarjo, (DOC) – dr. Hidayatullah, Sp.N., menapaki perjalanan panjang dari dunia kedokteran hingga kepemimpinan perguruan tinggi. Pengalamannya mencakup pelayanan kesehatan, pengelolaan rumah sakit, dan organisasi kemasyarakatan. Kini, ia memimpin Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA) Sidoarjo untuk periode 2023–2027.

Hidayatullah lahir di Sidoarjo pada 1 Juni 1975. Ia menempuh pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) dan lulus pada 2000. Ketertarikannya pada bidang medis berlanjut ke pendidikan spesialis saraf. Ia menyelesaikan pendidikan tersebut di Unair pada 2013.

Bacaan Lainnya

Bekal pendidikan itu mengantarkannya meniti karier di bidang kesehatan. Sebelum memimpin perguruan tinggi, ia menghabiskan bertahun-tahun dalam pelayanan medis dan pengelolaan institusi kesehatan.

Salah satu tonggak kariernya ialah saat memimpin Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo pada 2013–2022. Ia juga terlibat dalam pengelolaan rumah sakit dan kegiatan pendidikan di lingkungan YPM serta Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya.

Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan beragam tantangan. Mulai dari peningkatan kualitas pelayanan, pengelolaan sumber daya manusia, hingga penguatan tata kelola organisasi. Bekal itu turut membentuk pengalamannya sebelum memasuki dunia pendidikan tinggi.

Dari Pelayanan Kesehatan hingga Pengembangan Pendidikan

Bagi Hidayatullah, profesi dokter bukan sekadar tentang menangani persoalan medis. Pekerjaan tersebut juga mengajarkannya memahami kebutuhan masyarakat dan membangun pelayanan yang berorientasi pada manusia.

Prinsip itu juga relevan dalam dunia pendidikan. Perguruan tinggi perlu memberikan lebih dari sekadar pengetahuan akademik. Kampus juga harus membekali mahasiswa dengan keterampilan, karakter, dan kemampuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

“Pengalaman di bidang kesehatan mengajarkan bahwa setiap pekerjaan pada akhirnya harus kembali pada kebutuhan manusia. Prinsip itu juga relevan dalam pendidikan. Kampus harus mampu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang, sekaligus membekali mereka dengan kemampuan yang bermanfaat bagi masyarakat,” demikian pandangan Hidayatullah.

Baca Juga:  Persebaya Raih Juara di Piala Gubernur Jatim, Kalahkan Persija 4-1

Dunia kesehatan dan pendidikan memang memiliki tantangan berbeda. Pelayanan kesehatan berfokus pada kebutuhan pasien. Sementara itu, perguruan tinggi berperan membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Meski berbeda, keduanya membutuhkan tata kelola yang baik dan kerja sama antarpihak. Keduanya juga menuntut komitmen untuk menjaga kualitas pelayanan. Pengalaman mengelola organisasi kesehatan menjadi salah satu bekal Hidayatullah dalam menjalankan tugas sebagai rektor.

Aktif dalam Organisasi dan Pengabdian Masyarakat

Di luar profesi medis, Hidayatullah aktif dalam berbagai organisasi. Ia pernah memimpin Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Jawa Timur selama dua periode. Ia juga terlibat dalam kepengurusan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Jawa Timur.

Aktivitas organisasi memperluas pengalamannya di luar praktik kedokteran. Ia turut mengembangkan koordinasi, memperkuat kolaborasi, dan menggerakkan berbagai pihak untuk mencapai tujuan bersama.

Pengabdiannya juga terlihat saat pandemi COVID-19. Berdasarkan riwayat kegiatannya, Hidayatullah pernah menjabat Ketua Satgas COVID-19 NU Jawa Timur. Ia juga terlibat dalam kegiatan vaksinasi di sekolah, kampus, pesantren, dan lingkungan masyarakat.

Pada masa pandemi, kolaborasi berbagai pihak menjadi bagian penting dalam penanganan wabah. Tenaga kesehatan, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu bergerak bersama. Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana keahlian profesional dapat menjawab kebutuhan sosial yang lebih luas.

Perjalanan itu menunjukkan bahwa kiprah Hidayatullah tidak hanya bertumpu pada profesi dokter. Ia juga mengembangkan pengalaman dalam pengelolaan organisasi dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Tantangan Memimpin Perguruan Tinggi

Kini, Hidayatullah menghadapi tanggung jawab baru sebagai Rektor UMAHA. Ia perlu membawa perguruan tinggi tersebut agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perubahan dunia kerja.

Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan pengetahuan akademik. Kampus juga perlu mengembangkan keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi. Karena itu, kualitas pembelajaran dan relevansi pendidikan menjadi aspek penting dalam pengembangan institusi.

Rektor juga perlu membangun lingkungan akademik yang mendukung perkembangan mahasiswa dan dosen. Tata kelola kampus, peningkatan kualitas pendidikan, serta hubungan dengan dunia profesional menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Baca Juga:  Telkomsel Perluas Layanan VoLTE Hingga ke Bogor dan Sidoarjo

Pengalaman Hidayatullah dalam pelayanan kesehatan dan organisasi dapat menjadi bekal untuk mengelola institusi secara terarah. Namun, pengalaman pribadi perlu diterjemahkan menjadi program dan kebijakan yang memberi manfaat nyata bagi sivitas akademika.

Keberhasilan seorang rektor tidak cukup diukur dari jabatan atau panjangnya perjalanan karier. Kualitas pendidikan, kesempatan berkembang bagi mahasiswa dan dosen, serta kontribusi kampus kepada masyarakat juga menjadi ukuran penting.

Perjalanan Hidayatullah dari ruang praktik kedokteran menuju ruang akademik menggambarkan pengabdian lintas profesi. Ia membawa pengalaman dari pelayanan kesehatan, pengelolaan rumah sakit, hingga organisasi ke dalam peran barunya di perguruan tinggi.

Tantangan berikutnya ialah menerjemahkan pengalaman tersebut menjadi langkah nyata bagi UMAHA. Kampus perlu menjalankan pendidikan tinggi secara konsisten, terukur, dan berdampak. Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan perguruan tinggi tercermin dari kualitas lulusan dan manfaat yang mereka berikan kepada masyarakat. (r7)

Pos terkait