Surabaya,(DOC) – Wakil Presiden (Wapres) RI, M. Jusuf Kalla (JK) menghadiri acara forum silahturohmi Gawagis Nusantara, di Hotel Wyndham Surabaya, Sabtu(23/2/2019) siang.
Gawagis Nusantara merupakan forum para Gus atau anak-anak para Kiai se- Indonesia.
Dalam acara tersebut, hadir Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan mantan Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf (Gus Ipul).
Saat memberikan sambutan, Wapres JK menyampaikan berbagai hal, mulai khotbah para khotib di masjid – masjid hingga persoalan pesta demokrasi politik yang akan berlangsung sebentar lagi.
Menurut JK, untuk para khotib dihimbau selalu memberikan ceramah yang memadukan pengetahuan, agama dan tehnologi.
“Generasi muda atau yang disebut millenial bukan hanya yang menguasai teknologi saja. Tapi juga yang menguasai kitab. Karena itulah upaya yang butuh kita lakukan adalah mempersatukan para putra putri ulama, gus-gus dalam rangka kemajuan, karena untuk mencapai itu selalu dibutuhkan kesinambungan antara para senior dan yunior,” papar JK.
Sementara soal politik, JK menghimbau kepada masyarakat untuk mengambil hak suaranya dan benar-benar memilih pemimpin yang terbaik dari kedua Calon Presiden (Capres) yang ikut berkompetisi.
“Kita akan melalui pemilu lagi. Ini sudah biasa karena tiap 5 tahun digelar. Kalau dulu sebelum dilaksanakan serentak, Pemilu bisa berlangsung tiap minggu. Apa makna semua demokrasi yaknni memilih yang terbaik. Kita ingin yang demokrasi tidak nepotisme dan tidak korup. Ini karena sudah menjadi proses, tinggal 2 pilihan,” ungkap JK.
Ia berharap para Gus dan masyarakat tidak memilih calon yang otoriter, korup dan nepotisme seperti yang terjadi di era baru.
JK mencontohkan perlunya transparansi seorang pemimpin bangsa seperti yang telah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan dirinya sebagai Cawapres sekarang ini.
Selama dirinya menjabat mendampingi Presiden Jokowi, lanjut JK, dirinya dan Jokowi tak pernah membicarakan soal proyek secara pribadi.
Proyek – proyek pemerintah selalu dibahas lewat rapat terbuka dan semuanya demi kepentingan umum. Begitu juga para putra Presiden yang juga tak pernah mendapatkan proyek dari negara dan memilih usaha sendiri.
“Saya ingin katakan, bahwa 4 tahun bersama Pak Jokowi belum pernah bicara secara pribadi tentang proyek, kecuali untuk umum untuk bangsa kita. Tidak ada pembicaraan tanpa rapat dan semua sangat demokratis. Kemudian tentu kita tahu, semua anaknya tidak ada yang bekerja di proyek pemerintah. Satunya usaha pisang, satunya usaha bidang martabak. Berbeda dengan jaman dulu, proyek ini proyek itu,” jelas JK.
JK juga menggambarkan seorang pemimpin yang otoriter akan membawa kondisi negara mengalami krisis. Kejadian tersebut, menurut JK, sudah dibuktikan negara Venezuela.
“Apa yang menyebabkan negara hancur dan jatuh, yaitu kalau pemerintah otoriter. Pengalaman di era Suharto dan di negera Venezuela. Gaya otoriter akan selalu diikuti nepotisme dan korupsi,” pungkasnya.(hadi/r7)