Surabaya,(DOC) – Deretan inovasi yang lahir dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama warganya tidak hanya mengantarkan Kota Pahlawan ke panggung penghargaan nasional, tetapi juga terbukti berdampak langsung pada penurunan angka kemiskinan. Capaian tersebut menjadi faktor utama yang mengantarkan Surabaya meraih predikat Kota Terinovatif tingkat nasional dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2025.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian, dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, menyampaikan bahwa prestasi tersebut merupakan hasil gotong royong seluruh elemen masyarakat.
“Alhamdulillah selama setahun terakhir Surabaya menerima banyak penghargaan, baik nasional maupun internasional. Penghargaan ini bukan hanya milik pemerintah kota, tetapi juga seluruh warga Surabaya karena partisipasi mereka sangat luar biasa,” ujar Irvan, Sabtu (13/12/2025).
Selain meraih predikat kota terinovatif, Surabaya juga di nobatkan sebagai pemerintah daerah dengan sebaran inovasi urusan pemerintahan konkuren terbanyak tahun 2025. Penghargaan tersebut di serahkan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada puncak acara IGA 2025 di Jakarta, Rabu (10/12/2025).
“Surabaya tidak hanya menjadi kota terinovatif, tetapi juga menerima penghargaan karena inovasinya merata di hampir seluruh urusan pemerintahan,” jelasnya.
Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 1.214 inovasi lahir di Surabaya. Dari jumlah tersebut, 355 inovasi berasal dari Pemkot Surabaya, sementara sisanya merupakan kontribusi masyarakat, perguruan tinggi, SMA/SMK, komunitas, hingga lembaga swadaya masyarakat. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak di Indonesia.
Namun demikian, Irvan menegaskan bahwa nilai utama inovasi bukan pada banyaknya penghargaan, melainkan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, inovasi telah meningkatkan efektivitas intervensi kebijakan Pemkot Surabaya.
“Inovasi adalah kunci keberhasilan kota. Melalui inovasi, birokrasi dan pelayanan publik menjadi lebih efisien dan benar-benar berdampak,” tuturnya.
Indikator Makro
Ia memaparkan, indikator makro Surabaya menunjukkan perbaikan signifikan. Angka kemiskinan berhasil di tekan dari 5,23 persen menjadi 3,56 persen. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 9,68 persen menjadi 4,84 persen. Sementara Gini Rasio membaik dari 0,423 menjadi 0,381, menandakan kesenjangan sosial yang semakin menyempit.
“Indikator-indikator ini membuktikan bahwa inovasi yang kita jalankan benar-benar berdampak,” ungkap Irvan.
Ia menambahkan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari penerapan inovasi kunci Surabaya, yakni One Data, One Map, One Policy. Seluruh kebijakan Pemkot Surabaya, kata dia, wajib berbasis data yang terintegrasi.
“Kebijakan yang di lakukan Pak Wali Kota Eri Cahyadi semuanya berbasis data. Dengan satu data, satu peta, dan satu kebijakan, intervensi pemerintah menjadi jauh lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Melalui basis data yang terus di perbarui dan divalidasi oleh warga, RT/RW, serta Aparatur Sipil Negara (ASN) di lapangan, intervensi sosial dapat di lakukan secara by name by address, sehingga penanganan kemiskinan lebih presisi.
“Ini keunggulan Surabaya. Ketika berbasis data, penyelesaian masalah kemiskinan bisa langsung menyentuh sasaran,” katanya.
Irvan mengakui bahwa data bersifat dinamis dan terus berubah. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya secara konsisten melakukan pemutakhiran data sosial secara real time dengan melibatkan masyarakat.
“Data memang selalu berubah. Karena itu, pembaruan data terus di lakukan dan di bantu oleh masyarakat,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan menekan angka kemiskinan bukan semata hasil kerja pemerintah, melainkan kolaborasi pentahelix yang melibatkan dunia usaha, akademisi, media, komunitas, serta organisasi non-pemerintah.
“Ini adalah kerja bersama. Bukan hanya pemerintah, tetapi kolaborasi lintas sektor yang membuat inovasi Surabaya berdampak nyata,” pungkasnya. (r6)





