Surabaya,(DOC) – Umat Kristiani memasuki puncak permenungan iman dalam perayaan Jumat Agung, Jumat (3/4/2026), setelah menjalani rangkaian Tri Hari Suci yang diawali Misa Kamis Putih. Momentum ini mengajak umat mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib sekaligus memperdalam makna kasih dan pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.
Sehari sebelumnya, Kamis (2/4/2026), ribuan umat memadati Gereja Katolik Hati Kudus Yesus (HKY) Surabaya untuk mengikuti Misa Kamis Putih. Sekitar 5.000 umat mengikuti perayaan yang di pimpin Uskup Surabaya, Agustinus Tri Budi Utomo, bersama RD. Dominicus Mardiyatto Rudi Septiadi sebagai konselebran.
Sejak awal misa, suasana khidmat terasa kuat. Umat yang di dominasi mengenakan busana putih mengikuti seluruh rangkaian dengan penuh penghayatan. Kamis Putih sendiri memperingati Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama para murid-Nya, yang di kenal sebagai The Last Supper.
Dalam homilinya, Uskup yang akrab disapa Romo Didik (MoDik) menegaskan bahwa Kamis Putih bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu, tetapi menjadi panggilan nyata untuk meneladani kasih dan pelayanan Kristus.
Ia kemudian memimpin ritual pembasuhan kaki terhadap 12 umat terpilih yang melambangkan para murid Yesus. Mereka berasal dari beragam latar belakang sebagai simbol keterbukaan dan kesetaraan dalam Gereja.
“Kita tidak melihat jabatan, kekayaan, atau kepandaian. Orang yang kita layani justru di tempatkan lebih tinggi daripada kita yang melayani,” ujar MoDik.
MoDik juga mengajak umat memahami makna simbol dalam liturgi, termasuk penggunaan bunyi kayu yang menggantikan lonceng dalam Doa Syukur Agung sebagai lambang penderitaan Kristus di salib.
Umat Diingatkan Tidak Terjebak Seremonial
Ia mengingatkan umat agar tidak terjebak pada aspek seremonial semata dalam misa. Menurutnya, homili hanya menjadi pengantar menuju inti perayaan iman, yakni perjumpaan pribadi dengan Kristus.
“Sering kali orang menilai misa dari lucu atau tidaknya khotbah. Padahal, itu hanya pengantar menuju perjumpaan dengan Kristus,” tegasnya.
Memasuki Jumat Agung, umat melanjutkan permenungan atas penderitaan dan wafat Yesus dalam suasana hening dan reflektif. Hari ini menjadi bagian penting sebelum umat merayakan puncak sukacita Kebangkitan pada Hari Raya Paskah.
Melalui rangkaian Tri Hari Suci ini, umat tidak hanya menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga menghidupi nilai kasih, kerendahan hati, dan pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kasih Tuhan selalu membuka jalan pertobatan. Tuhan bukan pendendam, Ia tidak mengungkit masa lalu. Namun, kita harus mau datang dan berjumpa dengan-Nya,” pungkas MoDik.(ode/r7)
