Jakarta,(DOC) – Industri keramik nasional kembali menggeliat setelah beberapa tahun tertekan oleh serbuan produk impor. Pemulihan ini terjadi berkat serangkaian kebijakan pemerintah yang di nilai semakin pro-industri serta meningkatnya kolaborasi antara pelaku usaha di dalam negeri.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto, menyebut penerapan kebijakan seperti anti-dumping, safeguard, dan SNI Wajib berhasil memicu efek berantai yang menguntungkan bagi industri.
“Kebijakan tersebut menimbulkan multiplier effect yang sangat positif bagi pelaku industri,” ujar Edy dalam keterangannya, Kamis (20/11/2025).
Produksi Naik, Tenaga Kerja Bertambah
Perbaikan iklim industri mendorong produsen keramik dalam negeri menaikkan kapasitas produksinya. Sepanjang tahun ini, kapasitas industri keramik nasional bertambah sekitar 25 juta meter persegi, disertai penyerapan tenaga kerja baru sebanyak 1.500 orang.
Kenaikan produksi tersebut sekaligus mulai menggantikan dominasi keramik impor yang sebelumnya mencapai 80 juta meter persegi per tahun.
Importir Berbalik Gunakan Pabrik Lokal
Tren yang menarik, para importir yang selama ini mengandalkan produk dari luar negeri kini justru memilih bekerja sama dengan pabrik keramik lokal.
Edy menyebut hampir 90 persen importir besar telah menandatangani kontrak Original Equipment Manufacturing (OEM) dengan pabrik dalam negeri. Melalui skema ini, importir memproduksi keramik bermerek sendiri di pabrik lokal alih-alih mengimpor produk jadi.
“Para importir bahkan mengaku lebih puas di bandingkan ketika mereka masih mengimpor langsung,” katanya.
Ada sejumlah keuntungan yang membuat skema OEM semakin di minati:
- Suplai lebih pasti dan pengiriman lebih tepat waktu,
- Harga lebih stabil karena tidak terpengaruh fluktuasi kurs,
- Layanan purna jual dan garansi kualitas lebih terjamin.
Keunggulan-keunggulan itu memperkuat daya saing industri keramik nasional dan mempercepat substitusi impor di sektor konstruksi dan properti.
Proyeksi Pertumbuhan 2025
Asaki optimistis tren positif ini berlanjut pada 2025. Total produksi keramik nasional di proyeksikan mencapai 474,5 juta meter persegi, tumbuh 15,16 persen dari realisasi tahun lalu yang berada di angka 412 juta meter persegi.
Tingkat utilisasi kapasitas produksi di targetkan naik menjadi 78–80 persen pada 2025, dari posisi saat ini sekitar 73 persen.
“Kami berharap kebijakan yang mendukung industri dalam negeri terus dipertahankan agar pertumbuhan positif ini dapat berkelanjutan,” pungkas Edy.(ode/r7)