Surabaya,(DOC) – Komunitas MARAPAIMA bersama Yayasan ECOTON menggelar aksi damai bertajuk “Waspadai Jantung Bayi Terbungkus Plastik” dalam rangka kampanye Plastic Free July 2025. Aksi unjukrasa di gelar di Depan gedung negara Grahadi dan di kantor BBWS Brantas Surabaya.
Melalui aksi ini, mereka menyampaikan temuan penting dari riset terbaru mengenai mikroplastik dalam tubuh manusia yang berdampak serius bagi kesehatan, termasuk pada janin dalam kandungan.
Penelitian tersebut dipimpin oleh Muhammad Alvin Alvianto, mahasiswa Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang. Ia menjelaskan bahwa timnya berhasil mendeteksi mikroplastik dalam darah, urin, dan cairan ketuban (amnion) manusia. “Kami menemukan 76 partikel dalam darah (dari 26 sampel), 117 partikel dalam amnion (dari 11 sampel), dan 52 partikel dalam urin (dari 9 sampel),” ungkap Alvin.
Lebih lanjut, para peneliti menyoroti kompleksitas bahan kimia dalam plastik. Berdasarkan laporan Monclus et al. (2025), plastik terdiri dari lebih dari 16.000 jenis senyawa kimia, termasuk zat aditif, bahan pembantu proses, dan bahan awal. Ironisnya, lebih dari 4.200 senyawa tersebut tergolong berbahaya, namun belum diatur secara ketat.
Mikroplastik sendiri merupakan partikel berukuran kurang dari 5 mm yang terbentuk dari degradasi plastik. Partikel ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi, konsumsi makanan/minuman, atau kontak langsung dengan kulit. Menurut Roslan et al. (2024), setiap orang bisa menghirup hingga 53.700 partikel mikroplastik per tahun dari udara yang terkontaminasi emisi industri dan pembakaran sampah.
Menembus Organ Vital dan Mengancam Generasi Masa Depan
Mikroplastik yang masuk ke tubuh tidak hanya menetap, tetapi juga merusak jaringan organ vital. Berikut sejumlah dampak serius yang berhasil diidentifikasi oleh tim peneliti:
- Paru-paru mengalami peradangan, kerusakan jaringan, hingga peningkatan risiko penyakit pernapasan kronis dan kanker.
- Otak dan sistem saraf terganggu karena partikel plastik mampu menembus sawar darah-otak, menurunkan konsentrasi, serta meningkatkan risiko demensia dan gangguan psikologis.
- Sistem reproduksi pria dan wanita terganggu: kualitas sperma menurun, keseimbangan hormon terganggu, serta perkembangan embrio terancam.
- Janin dalam kandungan menjadi kelompok paling rentan. Mikroplastik ditemukan dalam plasenta, cairan ketuban, dan urin ibu hamil, yang dapat menyebabkan stres oksidatif, kerusakan DNA, dan gangguan perkembangan.
- Sistem pencernaan dan kardiovaskular juga terdampak. Mikroplastik menetap di usus, hati, pankreas, dan lambung; bahkan memicu resistensi insulin serta meningkatkan risiko stroke dan gagal jantung.
Paksi Samudro, rekan peneliti, menambahkan, “Bayi yang menggunakan botol plastik berpotensi menelan hingga 660.000 partikel mikroplastik per tahun. Ini sangat mengkhawatirkan.”
Indonesia Jadi Tempat Sampah Dunia?
Selain itu, MARAPAIMA dan ECOTON menyoroti fakta menyedihkan bahwa Indonesia terus menerima sampah plastik impor dari negara-negara maju. Antara lain:
- Australia: 2,7 juta ton
- Amerika Serikat: 2,3 juta ton
- Italia: 1,9 juta ton
- Inggris dan Belanda: masing-masing 1,6 juta ton
Mayoritas limbah tersebut sulit didaur ulang dan mencemari lingkungan. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia makin diposisikan sebagai tempat pembuangan limbah plastik global, sementara negara pengirim lepas dari tanggung jawab mereka.
Melalui kampanye ini, Komunitas MARAPAIMA dan ECOTON menyampaikan tiga tuntutan utama:
1. Kepada Pemerintah
- Hentikan produksi dan distribusi plastik sekali pakai
- Wajibkan pelabelan bahaya kesehatan pada semua produk plastik
- Larangan total impor limbah plastik
- Dukung kebijakan isi ulang dan produk ramah lingkungan
2. Kepada Produsen
- Ambil tanggung jawab atas limbah produk yang dihasilkan
- Kurangi produksi kemasan berlebih dan sekali pakai
- Ciptakan produk yang aman, transparan, dan dapat digunakan ulang
3. Kepada Masyarakat
- Tolak penggunaan plastik sekali pakai, terutama PET dan Polystyrene
- Gunakan sistem isi ulang dan kurangi konsumsi produk kemasan
- Aktif menyuarakan hak atas tubuh yang sehat dan lingkungan bersih
Melalui temuan ini, MARAPAIMA dan ECOTON menegaskan bahwa mikroplastik bukan sekadar isu lingkungan, melainkan krisis kesehatan global. Jika masyarakat dan pemerintah tak segera bertindak, generasi mendatang akan menghadapi ancaman serius terhadap tubuh dan masa depan mereka.
“Kami tak ingin jantung bayi lahir dalam tubuh yang sudah tercemar plastik,” tegas salah satu aktivis. “Aksi damai ini adalah panggilan untuk bertindak, sebelum semuanya terlambat,” tambahnya.(r7)





