Kredit Perbankan Jatim Melambat, OJK Soroti Tekanan Ekonomi Awal Tahun

Kredit Perbankan Jatim Melambat, OJK Soroti Tekanan Ekonomi Awal TahunSurabaya,(DOC) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur (Jatim) mencatat kinerja industri perbankan di Jawa Timur masih terjaga hingga Februari 2026. Namun, pertumbuhan kredit mulai melambat di tengah tekanan inflasi dan dinamika ekonomi global pada awal tahun.

OJK mencatat penyaluran kredit perbankan mencapai Rp620,090 triliun atau tumbuh 1,97 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka itu sedikit lebih tinggi dibanding Desember 2025 yang tumbuh 1,90 persen.

Bacaan Lainnya

Meski demikian, pertumbuhan kredit masih jauh lebih rendah dibanding Desember 2024 yang sempat mencapai 8,62 persen secara tahunan.

Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari mengatakan penyaluran kredit secara year to date (ytd) masih mengalami kontraksi sebesar 0,89 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan pola yang umum terjadi pada awal tahun karena perbankan biasanya melakukan penyesuaian penyaluran pembiayaan.

“Secara year to date, kredit terkontraksi minus 0,89 persen akibat penyesuaian penyaluran kredit di awal tahun,” ujar Yunita, Selasa (26/5/2026).

Dunia Usaha Masih Tahan Ekspansi

OJK menilai perlambatan pertumbuhan kredit menunjukkan dunia usaha dan rumah tangga masih menahan ekspansi. Tingginya suku bunga, lemahnya permintaan domestik, dan ketidakpastian ekonomi global membuat perbankan lebih selektif menyalurkan kredit.

Di tengah perlambatan kredit, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) justru menunjukkan penguatan.

Hingga Februari 2026, DPK perbankan di Jawa Timur mencapai Rp830,757 triliun atau tumbuh 4,19 persen secara tahunan. Angka itu meningkat dibanding Desember 2025 yang tumbuh 3,50 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan di Jawa Timur masih terjaga.

Likuiditas dan Permodalan Masih Kuat

Sementara itu, rasio Loan to Deposit Ratio/Financing to Deposit Ratio (LDR/FDR) berada di level 74,64 persen. Angka itu turun dibanding Desember 2025 yang mencapai 76,52 persen karena pertumbuhan dana masyarakat lebih tinggi dibanding penyaluran kredit.

Baca Juga:  Bank Jatim dan Nasional Hospital Jalin Kolaborasi Strategis, Perkuat Layanan Kesehatan Terintegrasi bagi Nasabah

Dari sisi kualitas aset, OJK mencatat rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) masih berada dalam batas aman meski mengalami kenaikan.

NPL Gross naik menjadi 3,63 persen dari sebelumnya 3,37 persen pada Desember 2025. Sementara NPL Net meningkat menjadi 1,57 persen dari 1,47 persen.

Di sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 30,48 persen. Meski turun tipis di banding Desember 2025 yang mencapai 31,38 persen, level tersebut masih tergolong kuat untuk menopang ekspansi bisnis dan menyerap potensi risiko.

Secara keseluruhan, OJK menilai industri perbankan Jawa Timur hingga Februari 2026 masih solid. Likuiditas dan struktur permodalan juga tetap kuat. Meski begitu, OJK meminta perbankan tetap mewaspadai risiko kredit di tengah pertumbuhan pembiayaan yang masih terbatas dan tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya mereda.(ode/r7)

Pos terkait