Lumajang,(DOC) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang resmi meluncurkan Si Pena Lusi (Sistem Penanggulangan Bencana Inklusif) pada Kamis (12/6/2025), di Gedung Panti PKK. Program ini di rancang untuk melibatkan kelompok rentan penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, dan anak-anak—dalam sistem penanggulangan bencana.
Peluncuran di buka langsung oleh Bupati Lumajang, Indah Amperawati Masdar, bersama Kalaksa BPBD, Patria Dwi Hastiadi.
Patria menegaskan, Si Pena Lusi adalah bentuk perbaikan dari sistem sebelumnya. Tujuannya membangun tata kelola bencana yang inklusif dan partisipatif.
“Selama ini, kelompok rentan sering terabaikan dalam evakuasi maupun pemulihan. Jalur evakuasi belum ramah disabilitas atau lansia. Si Pena Lusi hadir menjawab itu,” jelasnya.
Ia mencontohkan penyandang tunanetra atau tunarungu yang punya kebutuhan berbeda dalam kondisi darurat. Karena itu, mereka harus dilibatkan sejak perencanaan.
Program ini meliputi semua tahapan bencana: pra, saat kejadian, hingga pasca. Pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Bupati, Instruksi Bupati, dan dokumen pendukung sebagai dasar hukum.
“Ini bukan sekadar proyek. Ini sistem yang berjalan terus-menerus dan melibatkan semua pihak,” tambah Patria.
Bupati Indah menyambut baik program ini. “Alhamdulillah, regulasi sudah lengkap. Tinggal kita jalankan bersama,” katanya.
Dengan Si Pena Lusi, Lumajang melangkah menuju sistem penanggulangan bencana yang lebih adil dan inklusif.
Rencananya ke depan, Pemkab Lumajang juga akan menggandeng lebih banyak pihak, termasuk organisasi penyandang disabilitas, relawan lokal, dan lembaga pendidikan.
Program pelatihan kebencanaan berbasis inklusi dijadwalkan rutin digelar di desa-desa rawan bencana. Selain itu, simulasi evakuasi inklusif akan menjadi agenda berkala, agar semua lapisan masyarakat, terutama kelompok rentan siap menghadapi situasi darurat.(imam)





