Mendikdasmen Ingatkan Rumah dan Masyarakat Juga Harus Jadi Lembaga Pendidikan

Mendikdasmen Ingatkan Rumah dan Masyarakat Juga Harus Jadi Lembaga Pendidikan
Mendikdasmen Ingatkan Rumah dan Masyarakat Juga Harus Jadi Lembaga Pendidikan

Jakarta,(DOC) – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menutup agenda kegiatannya pada Kamis (13/3) dengan memberikan tausiah tarawih di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan. Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya peran orang tua dan masyarakat dalam menanamkan nilai akidah dan akhlak mulia kepada anak-anak sejak dini.

“Kepada para orang tua, saya mengajak untuk menanamkan nilai keagamaan dan akhlakul karimah dalam kehidupan anak-anak kita,” ucap Mu’ti.

Bacaan Lainnya

Mu’ti menjelaskan bahwa pembentukan karakter anak tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal di sekolah. Ia menyebut empat pilar yang saling melengkapi dalam pendidikan anak, yakni sekolah, keluarga, masyarakat, dan media sosial.

“Sering kali sekolah sudah berupaya menanamkan ilmu, akhlak, dan ketaatan ibadah. Tapi jika tidak di dukung oleh keluarga dan masyarakat, hasilnya tidak akan maksimal. Terlebih dengan kuatnya pengaruh media sosial hari ini,” tegasnya.

Menurutnya, meskipun banyak orang tua mampu menyekolahkan anak-anaknya ke tempat terbaik, namun tidak semua memiliki waktu dan keterlibatan emosional yang cukup. Rumah belum di jadikan sebagai ruang pendidikan utama berbasis keteladanan dan pembiasaan nilai-nilai luhur.

Di sisi lain, masyarakat juga mulai abai terhadap pendidikan moral. Kekerasan verbal yang dulu di anggap tabu kini seolah menjadi hal biasa.

“Kita butuh kembali menghidupkan pendidikan moral di tempat ibadah dan ruang publik. Ini bukan tanggung jawab individu, tapi kolektif,” ujar Mu’ti.

Waspada Pengaruh Media Digital

Mendikdasmen juga menyoroti dampak teknologi dan penggunaan gawai yang semakin tak terbendung. Ia mengingatkan bahwa banyak anak sudah tergantung pada gadget, namun minim pengawasan dari orang tua terhadap konten yang di konsumsi.

“Orang tua perlu sesekali bertanya: apa yang sedang di tonton? Kita harus hadir, memberi klarifikasi, memberi arah. Jangan sampai anak menjadi pintar teknologi tapi miskin akhlak,” katanya.

Baca Juga:  Pendidikan Aman Jadi Fokus Kemendikdasmen di 2025

Menutup tausiah, Mu’ti menyerukan pentingnya memperkuat nilai-nilai dasar seperti ibadah, sopan santun, dan penghormatan terhadap tradisi agar pendidikan tidak mengalami degradasi.

Ia menggambarkan visi tentang generasi masa depan Indonesia: generasi yang cerdas, terampil, berbudi pekerti, dan rendah hati.

“Generasi yang serba tahu, serba bisa, tapi tetap punya akal budi. Itulah generasi yang akan melanjutkan perjuangan dan memajukan bangsa ini,” pungkasnya. (r6)

Pos terkait