
Surabaya, (DOC) – Aroma kopi langsung menyambut begitu memasuki kawasan Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 di Balai Pemuda Surabaya, Minggu (19/7/2026). Di antara puluhan stan yang memamerkan kopi dari berbagai penjuru Pulau Jawa, ada satu komoditas yang sukses mencuri perhatian pengunjung karena cerita sejarahnya yang pekat, yaitu Kopi Puhu.
Nama “Puhu” diambil dari bahasa Sunda yang berarti awal atau kuno. Bukan sekadar nama, kopi robusta ini memiliki jejak sejarah panjang karena telah tumbuh sejak akhir abad ke-17 di kawasan Pandeglang, Banten.
“Jumlah yang merawatnya sampai sekarang tidak banyak. Kami bekerja sama dengan beberapa petani di Pandeglang untuk menjaga keberadaan kopi ini,” ujar Wahyu Kusnadiharja saat melayani pengunjung di stan Kopi Puhu.
Selama ratusan tahun, tanaman kopi purba ini sempat tumbuh liar tanpa perawatan memadai. Karakteristik kunonya masih terlihat jelas dari pohon-pohon kopi yang tumbuh menjulang hingga mencapai ketinggian 10 meter di antara semak belukar dan sangat kontras dengan perkebunan kopi modern yang biasanya dipangkas pendek agar mudah dipanen.
Keunikan sejarah ini berbanding lurus dengan cita rasa yang dihasilkan. Meski seluruh produk yang dibawa ke JCFF 2026 berjenis robusta, seduhan Kopi Puhu justru menghadirkan kejutan di lidah.
Ada sentuhan rasa asam lembut khas arabika yang muncul sebagai hint, sebelum akhirnya ditutup dengan sensasi pahit kuat yang menjadi aftertaste khas robusta. “Asamnya hanya sedikit, hanya memberi hint sehingga rasanya tetap seimbang,” jelas Wahyu.
Keunikan rasa dan cerita di balik Kopi Puhu ini menjadi salah satu potret dari misi besar JCFF 2026 yang berlangsung pada 17–19 Juli. Ajang ini terbukti bukan sekadar ruang transaksi dagang, melainkan menjadi panggung perjumpaan antara tradisi, inovasi, dan kisah panjang perjalanan kopi Nusantara yang terus hidup dari tangan para petani hingga ke cangkir para penikmatnya.




