NU Gelar Muktamar Internasional Fiqih Peradaban di Surabaya

Surabaya (DOC) – Menjadi pembuka dalam seluruh rangkaian acara Muktamar Internasional Fikih Peradaban 1 Abad Nahdlatul Ulama, pameran perjalanan KH Wahab Hasbullah ke Saudi Arabia sebagai utusan Nahdlatul Ulama (NU) pun digelar.

Bacaan Lainnya

Pameran dibuka langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf. Dalam kesempatan ini, KH Yahya mengatakan, tak hanya dokumentasi KH Wahab Hasbullah yang penting, akan tetapi narasi yang dibawa olehnya setelah melakukan perjalanan ke Saudi Arabia, menjadi salah satu pendongkrak semangat pada para anggota NU.

“Dengan tagline merawat jagat membangun peradaban di acara Muktamar Internasional, kita diingatkan kembali oleh semangat yang dibawa oleh KH Wahab, atau yang biasa kita kenal bersama dengan Mbah Wahab,” ujar pria yang akrab disapa Gus Yahya ini, Minggu (5/2).

Awalnya, dokumentasi perjalanan KH Wahab Hasbullah ini akan dibukukan. Namun karena terbatasnya waktu, launching dari buku tersebut diundur, baru soft launching dengan diadakannya pameran dokumentasinya di Hotel Shangri – la Surabaya.

“KH Wahab Hasbullah ini adalah Wali Peradaban. Beliau juga menginisiasi berdirinya NU pada waktu itu, dan beliau pula yang melakukan perjalanan panjang membawa nama NU ke Kerajaan Arab Saudi,” terangnya.

Dalam pameran tersebut, puluhan foto hasil pengambilan gambar oleh KH Wahab Hasbullah sendiri, saat melakukan perjalanan ke Arab Saudi dengan membawa nama NU.

Tak hanya foto dokumentasi saja, dalam pameran tersebut juga menampilkan dokumen serta surat-menyurat KH Wahab, serta beberapa surat telegram yang ditujukan ke Indonesia.

Pameran ini juga menunjukan perjalanan KH Wahab Hasbullah ke daerah-daerah, guna mengumpulkan para ulama bisa berkomunikasi satu antar lainnya, dan mewujudkan perkumpulan atau organisasi dengan para ulama lainnya, yakni Nahdlatul Ulama.

Dalam pameran itu juga menunjukan jika KH Wahab Hasbullah sempat mendatangi Masjid Ampel, bahkan melalui anaknya, yakni KH Hasib Wahab diketahui jika ayahnya pernah bersurat langsung ke Sunan Ampel.

“Abah datang ke makam Sunan Ampel dan Abah bersurat, dengan cara menulis surat dan suratnya dimasukan ke tanah,” ungkap KH Hasib sambil tertawa.

Sementara itu perhelatan dari Muktamar Internasional Fikih Peradaban 1 yang digelar oleh PBNU, bertujuan membangun peradaban dan perdamaian dunia, yang sudah mulai luntur pada saat ini.

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf menjelaskan soal pembangunan peradaban seperti yang manusia inginkan, hingga seberapa peran Islam dalam peradaban dan perdamaian dunia saat ini.

“Tujuan dari Muktamar membangun peradaban ini, tentang peradaban seperti apa yang hendak kita inginkan. Kemudian bagaimana sumbangan Islam untuk peradaban manusia tersebut, tentang bagaimana sebetulnya pondasi keagamaan, landasan syariat, serta agenda-agenda yang nantinya diluncurkan dalam rangka melangsungkan peradaban,” ujar KH Yahya.

Kiai Yahya juga menjelaskan wacana, yang selama ini sudah digodok oleh NU, demi perdamaian dunia, hingga permasalahan global lainnya.

“Selama ini, kita juga punya wacana yang cukup besar, tentang toleransi beragama, dan lain sebagainya, tapi juga sebetulnya juga berkaitan besar di dalam masalah-masalah global ini, yaitu wawasan syariah yang terkait dengan kontruksi dalam pembangunan ini,” terangnya.

“Nanti, besok akan kita ajak, untuk menghadiri prosesi puncak Harlah di Sidoarjo. Ini sudah kita desain sedemikian rupa, untuk menunjukan para ulama di seluruh Dunia, tentang betapa pentingnya membangun ikatan sosial seperti Nahdlatul Ulama ini,” imbuhnya.

Senada, Wakil Sekjen PBNU, Muhammad Najib Azca berharap jika Muktamar Internasional Fikih Peradaban ini bisa menjadi trigger di kancah internasional.

“Ini adalah puncak dan sebagai trigger di kancah internasional, terlebih lagi di Piagam PBB tidak muncul, tidak berkembang, padahal ini mempunyai konsekuensi yang sangat penting,” ujar Najib.

Selain itu, Najib juga memunculkan perihal adanya Piagam PBB yang memunculkan kemerdekaan bangsa-bangsa, untuk bisa dilihat kembali sebagai dasar hukum perdamaian dunia.

“Kita ingin melihat secara makro, perihal Piagam PBB, dan ini usaha kami membangun implikasi yang sangat signifikan dari upaya kita membangun perdamaian dunia. Teman-teman bisa melihat, kita ini membangun pondasi fikih, terlebih lagi selama ini Islam tak pernah menjadi aktor penting dalam hal itu,” terangnya.

Di sini, NU mengajak para tokoh dunia maupun tokoh-tokoh agama di dunia, menengok kembali Piagam PBB, yang pada saat ini mulai ditinggalkan.

“Harapannya kita bisa terus berkembang, bagaimana umat Islam sebagai pilar pokok atau pilar utama dan membangun format baru perdamaian dunia. Kenapa piagam PBB, karena piagam tersebut salah satu kekayaan yang amat sangat besar dalam membangun perdamaian ke depan, tetapi selama ini tidak diperbincangkan terutama oleh umat Islam,” urai Najib.

Dalam penjelasan Najib kali ini, bahwa Piagam PBB ini mengakui kemerdekaan sebuah bangsa, dan juga hak asasi manusia. Piagam PBB ini yang mengakui terhadap kemerdekaan, terutama negara hukum dan juga hak asasi manusia.

“Ini sesungguhnya bisa dilihat kembali dan mengkondisikan perdamaian kedepan, jadi untuk membangun perdamaian yang solid kita sudah punya harta yang cukup besar lho, tapi dilupakan,” jelasnya.

“Persoalannya begini, yang kita tau ada dua makna, dan makna ini sangat penting untuk umat Islam, khususnya para ulama, karena ini membicarakan konstruksi yang solid dan piagam PBB,” imbuhnya.

Menurutnya, pembicaraan ini sangat penting, karena membicarakan multilateralisme membicarakan internasional. Belakangan ini multilateralisme sangat lemah, dalam bahasanya yakni uniteralisme.

“Uniteralisme itu apa, kalau ada problem diselesaikan di sini, tidak secara bersama. Contohnya apa? Iran, Afganistan, Israel dan Palestina, di sini peran PBB tidak jelas. Jadi penyelesaian masalah secara unilateral. Lah ini menjadi hal yang menarik buat PBNU dalam menyelesaikan masalah, pentingnya dunia ini kembali ke dalam konsep bersama. Kita menyelesaikan masalah ini ke PBB,” terangnya.

Menurutnya, di tengah seperti inilah, PBNU melakukan hal untuk kembali lagi, sebuah organisasi keagamaan mengajak untuk kembali ke multiteralisme. Piagam PBB ini sebuah kesepakatan luar biasa sekali.

“Piagam PBB ini kan dirumuskan bahkan sebelum Indonesia belum merdeka, dan itu menjadi pondasi kemerdekaan bangsa-bangsa, tapi sekarang ini jarang dilihat,” ucap Najib.

Saat ini, dari penilaian NU sendiri, para ulama sudah di nomor duakan dalam membicarakan isu-isu yang terjadi di dunia. Namun jika nantinya Muktamar Internasional Fikih Peradaban ini berhasil, maka akan menjadi hal yang luar biasa.

“Selama ini ulama Islam marjinal, tidak pernah membicarakan isu-isu internasional, perdamaian dunia tidak pernah, tapi kalau ini berhasil, kami yakin ini akan menjadi driving force yang luar biasa, untuk membangun kembali keharmonisan perdamaian dunia untuk bangsa-bangsa, dan itu juga akan berbasiskan perdamaian dunia dengan nilai-nilai agama yang lebih penting juga,” lengkap Najib.

Dalam masalah ini, NU ingin memberikan contoh pada tokoh-tokoh agama ataupun tokoh dunia, dalam mengambil sikap terhadap permalasahan yang terjadi di Internasional.

“NU ini memberikan contoh, bahkan pada seluruh pimpinan agama di dunia, ini lho bagaimana menjalankan agama sebagai sumber inspiratif solusi untuk krisis dunia itu contohnya apa, ya Muktamar Internasional Fikih Peradaban,” tandasnya. (ang)